Sabtu, 12 Februari 2022

Keputusan Terbaik




Masa akhir sekolah menengah atas pasti dihantui berbagai macam pikiran tentang sebuah rencana masa depan. Apa yang harus aku lakukan setelah melepas masa putih abu-abu ini? Tak sedikit waktu memikirkannya, mencoba merencanakan sesuatu dengan mempertimbangkan baik dan buruknya. Tujuh belas tahun adalah awal dimana keputusan yang kita pilih menentukan bagaimana kita kedepannya.

Sebagai seseorang yang saat itu minim relasi di usia remaja, aku termasuk kelompok remaja yang sampai menjelang akhir kelulusan masih bingung menentukan jurusan kuliah apa yang akan aku ambil. Aku termasuk orang yang jarang bahkan hampir tidak pernah untuk menyuarakan pendapatku di depan publik. Seseorang yang bahkan gemetar jika diminta untuk maju ke depan kelas. Lebih nyaman jika tidak terlihat dan memilih untuk memberikan kesempatan-kesempatan kepada teman lain. Keberanianku saat itu mungkin dibawah level rata-rata. Menjadi guru sama sekali tidak ada di list impianku saat itu.

Kata-kata motivasi menjelang kelulusan kami intens diberikan kepada guru-guru kami. Tujuan nya supaya kami mendapat pencerahan dan yakin untuk memilih apa yang harus kami putuskan. Hari itu adalah pelajaran bahasa inggris, salah satu pelajaran yang tidak aku minati, tapi karena aku menyukai gurunya jadi fokusku pada pelajaran itu aku berikan sepenuhnya. Di tengah pelajaran ibu guru dengan penampilan teduh itu memberikan sebuah motivasi yang satu kalimatnya aku ingat sampai hari ini “pekerjaan yang paling baik untuk wanita adalah menjadi seorang guru”.

Beliau membagi pengalamannya selama menjalani profesi menjadi guru. Ada tugas utama dari seorang wanita yaitu menjadi madrasah pertama bagi anaknya. Ketika seorang wanita disibukan dengan pekerjaan di luar dan menyita banyak waktu, ada sesuatu yang di khawatirkan yaitu komunikasi dengan anak-anaknya hanya sedikit. Tentu ini tidak berlaku untuk semua wanita, karena ada wanita yang bisa menghandle kehidupan di dalam rumah dan di luar rumah dengan sangat baik. Menjadi guru adalah salah satu solusi untuk wanita yang ingin tetap bekerja dan memiliki komunikasi yang banyak dengan anak. Karena jam kerja guru tidak sebanyak jam kerja pegawai perusahaan. Dengan menjadi guru juga kita bisa melatih diri untuk memahami karakter anak-anak.

Sekolah, selain menjadi tempat bekerja bisa sekaligus menjadi tempat belajar menjadi ibu. Karena sejatinya, guru adalah orangtua ideologis bagi murid-muridnya. Yang setiap hari dengan tulus dan ikhlas mengajarkan tentang akhlak, budi perkerti, ilmu akhirat dan bagaimana kehidupan di dunia.

Sejak mendengar kisah dan nasihat dari guruku itu, aku akhirnya mantap memutuskan untuk menjadi guru.

Suatu hari, ketika aku sudah waktunya lulus dari dunia perkuliahan, seorang teman bertanya apa yang akhirnya menjadi alasanku untuk menjadi guru. Aku ceritakan persis sama seperti tulisanku saat ini.

“Kamu pas SMA udah berfikir sejauh itu?”

Aku kembali berfikir.

Benar juga.

Kenapa aku bisa berfikir sejauh itu ya.

Walaupun banyak campaign bahwa carilah sesuatu yang kamu sukai dan pilihlah jurusan dari sesuatu itu. Jangan pikirkan jurusan kuliahmu hanya untuk pekerjaan di masa depan. Karena kalau kamu menjalaninya dengan baik, pekerjaan akan mencarimu dengan sendirinya.

Entahlah, campaign tadi tidak berlaku untukku. Aku memilih untuk mencoba sesuatu yang baru, menjalaninya, lalu menikmati rencana yang aku buat di masa depan.

Kembali lagi, hidup itu pilihan kan? Apa yang kamu pilh tentu akan meminta pertanggung jawaban kamu. Aku harap keputusan-keputusan yang aku buat bisa aku jalani dengan penuh tanggung jawab dan bisa membuat aku bahagia di masa lalu, masa kini maupun masa depan.


Minggu, 27 Desember 2020

Apa definisi bahagiamu?

 



“Tidak ada yang terlahir jelek. Kita hanya terlahir dimasyarakat yang suka menghakimi”

Aku sudah lama mendengar kata-kata itu. Kata-kata itu dari Kim Namjoon, seorang leader pada sebuah grub idol kpop. Seakan menjadi penyembuh untuk kita yang suka merasa insecure entah itu karena wajah kita atau karena tampilan kita. Bisa juga karena pola pikir kita yang menurut kita belum bisa sehebat orang lain. Atau karena kesuksesan kita yang menurut kita masih terlampau jauh untuk dibilang sebuah keberhasilan. Kenapa kita selalu membandingkan diri kita dengan orang lain? Dan kenapa orang lain seakan berhak untuk menghakimi kehidupan kita?

Aku yakin, orang hebat sekalipun yang terlihat sempurna di mata dunia pasti pernah merasa tidak percaya diri dengan apa yang dia punya. Sebenarnya solusi dari permasalahan ini adalah sabar dan syukur kan? Tentu kedua kata itu terlihat mudah terucap namun sulit sekali dilaksanakan. Kita diminta sabar ketika ada seseorang yang menghakimi kita. Kita juga diminta bersyukur untuk semua yang Tuhan berikan kepada kita. Tapi aku rasa menangis bukanlah pilihan yang buruk jika kita sudah merasa muak dengan semuanya.

Selain sabar dan syukur, bahagia adalah kunci untuk bertahan hidup di dunia. Definisi bahagia setiap orang pasti berbeda bukan? Anak kecil akan bahagia hanya karena sebuah permen, seorang pedagang akan bahagia jika ada yang tertarik dengan barangnya, seorang penulis akan bahagia jika tulisanya bisa bermanfaat untuk orang lain. Semua punya definisinya. Aku harap, kamu, aku dan kita semua punya alasan bahagia yang begitu banyak. Sehingga tak ada waktu untuk menyalahkan diri sendiri. Menangis dalam sepi memikirkan pendapat orang lain yang menghakimi. Tidak ada yang sempurna karena “Kita hidup untuk menjadi nyata, bukan menjadi sempurna (Suga-BTS)”.

Sabtu, 09 Mei 2020

Tak Ada Jawaban Setelah Temu





Secangkir kopi tanpa adanya obrolan terlihat tidak spesial. Hanya berteman sepi, aku mencoba tetap menikmati. Tanaman kaktus tersenyum yang disediakan di meja menjadi teman bisu saat ini.

Lalu kau datang. Dengan sopan mengucap salam dan menyapa dengan kata “Hai”. Layaknya seperti tumbuhan puteri malu, reaksiku pun langsung tertunduk malu. Tak berani menatap netra matamu.

Obrolan apa yang diharapkan dari dua manusia yang tidak bisa mencairkan suasana? Aku tak tahu ini terjadi karena kita sama-sama kaku atau degub jantung kita yang iramanya tak menentu. Lima tahun lalu rasanya kita bisa bercengkrama tanpa kenal waktu. Mengapa sekarang susah sekali hanya untuk mengurai rindu?

Lima belas menit berjalan, kita masih ditemani diam. Secangkir kopi sudah menjadi sepasang. “Apa kabar?” kurasa cukup untuk memulai perbincangan. Kau menampakkan senyum. Seperti “lega” akhirnya hening mulai menemukan suara.

Sebuah kotak kecil berwarna abu-abu kau sediakan dihadapanku. Jangan tanya aku masih mengingatnya atau tidak. Tentu semua tentangmu masih melekat baik di memoriku.

“Permintaanmu sudah ku tamatkan. Bukalah selagi kau sendiri” kalimat panjang akhirnya tercipta darimu.

Aku mengambil kotak itu, meletakkannya di tas punggung ku.

“Maaf aku harus pamit” katamu, suara itu nyaris tak terdengar ditelingaku.

Aku bertanya dalam hati “Apakah hanya ini yang bisa kita lakukan setelah jutaan detik kita tak bertemu?”. Aku terlalu pengecut untuk mengutarakannya langsung padamu. Hanya anggukan dari ku yang tercipta setelah kau ucap kata pamit. Bibirku terlalu kelu untuk mengungkapkan 10 atau 20 pertanyaan yang berkecamuk di kepala.

Kau pergi, memperlihatkan punggungmu yang berlangsung menjauh dari pandanganku. Kau melupakan sesuatu, tak ada kata “Selamat Tinggal” untuk pertemuan kali ini. Setidaknya berikan kepastian, aku harus menunggumu atau melupakanmu.

Jumat, 17 April 2020

Ingat ini di Masa Depan



Tulisan ini dibuat sebagai pengingat, bahwa di bulan kedua tahun 2020 dunia dihebohkan dengan adanya virus baru yang mematikan dan penyebaran sangat cepat. Dunia medis menyebutnya COVID-19, sedangkan masyarakat sekitar kebanyakan menyebutnya Virus Corona. Virus ini awal mula muncul di negara tirai bambu, tepatnya di kota Wuhan. Penularan dangat cepat melalui droplet si penderita. Oleh sebabnya menjaga kebersihan adalah salah satu kunci terhindar dari virus corona.

Rumah sakit tiba-tiba menjadi penuh dengan pasien Covid, dokter dan perawat menjadi garda terdepan penanganan virus ini. Sampai akhirnya virus menyebar ke berbagai negara di dunia, tak terkecuali negaraku, Indonesia.

Indonesia pertama kali terpapar virus corona terhitung awal bulan Maret, diawali dengan seorang pegiat seni dibidang tari berasal dari kota Depok. Masyarakat menjadi sangat panik, semua orang berbondong-bondong membeli kebutuhan sehari-hari untuk akhirnya mengurung diri di rumah, meminimalisir penularan. Korban dari hari ke hari semakin bertambah banyak. Sampai saat ini, Jumat 17 April 2020 tercatat sudah 5.923 kasus positif, dengan 520 orang meninggal dan 607 orang sembuh yang terbesar di 34 provinsi di Indonesia.

Sebagian masyarakat mengikuti dengan tertib anjuran #dirumahaja. Namun sebagian yang lain masih saja berjibaku di luar rumah, entah karena alesan pekerjaan, sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan, atau mungkin memang ada segelintir orang yang merasa tidak peduli dengan wabah ini. Tipe orang terakhir memang sangat menyebalkan, tak pernah memikirkan dampak dari segala perilakunya.

Setiap harinya berita di televisi, surat kabar maupun media sosial tak pernah absen berbicara tentang Covid-19. Seakan kami semua setiap hari sudah terbiasa dengan berita buruk. Ikut sedih dan menangis ketika melihat dokter dan perawat sebagai garda terdepan harus menjadi korban juga. Tak hanya mereka, profesi polisi, tentara, bahkan supir ambulans pun harus tetap bekerja untuk membantu memakamkan jenazah korban corona.

Katanya, bumi sedang ingin istirahat dari hiruk pikuk kehidupan manusia. Planet yang sudah dengan sukarela ditinggali manusia ini butuh ruang bebas unuk bernapas lega. Tak ingin ada polusi yang pekat seperti biasa. Tak ingin ada ulah manusia yang ada-ada saja tingkahnya untuk merusak alam semesta.

Kalau sudah begini keadaannya, tak ada cara lain selain berdoa kepada Maha Kuasa. Menundukkan kepala, bersuara dengan lirih dan memejamkan mata, berucap pinta dengan merendahkan diri dengan kesungguhan kita. Tuhan mungkin rindu dengan suara pinta hambaNya. Karena selama ini kita hanya sibuk dengan kehidupan dunia yang nyatanya hanya sementara saja.

Bulan Ramadhan satu pekan lagi. Aku dan semua muslim di dunia tentu mengharapkan keajaiban di bulan yang suci ini. Ingin sekali merasakan suasana seperti biasa. Berjamaah dan berlomba dalam mencari pahala. Semoga Allah mengabulkan doa-doa kita, Aamiin.

Kamis, 16 April 2020

Penyuka Semua Warna, Langit Sore, Martabak Keju dan Kamu



Tehitung sejak akhir Maret, karantina #dirumahaja memaksa ku untuk melakukan hal-hal yang tidak biasa aku lakukan. Bukan seperti aktivitasku biasanya yang selalu berangkat pagi buta dari rumah dan selalu pulang ketika matahari ingin beranjak tenggelam.

Hari ini aku memutuskan untuk membongkar semua isi lemari. Kau pasti tau, hal yang pasti terjadi dari aktivitas itu adalah ditemukannya tumpukan buku berisi kenangan. Aku tertawa untuk beberapa lembar catatan usang yang ku baca ulang, mengingat kembali momen-momen itu. Seperti jiwaku ingin berkelana kesana. Menertawakan kebodohan dan menangisi penyesalan.

Dari sekian banyak catatan tanpa jeda setiap lembarnya, ada satu catatan yang membuatku seperti mengingat kembali apa yang mendasari ku menulis itu. Keras putih bercoretkan tinta hitam itu tertulis “penyuka semua warna, langit sore, martabak keju dan kamu” hanya satu kalimat. Tanpa penjelasan yang panjang. Ah dasar, memang aku si pelupa dalam segala hal, sampai-sampai kalimat itu membuat konsentrasiku terganggu di setiap detiknya. Mengingat-ingat apa yang membuat aku menuliskan kalimat itu.

Kamu...iya kamu yang dimaksud dalam tulisan itu pastilah kamu. Manusia keras kepala tapi selalu sabar akan sikap masa bodo ku. Kata orang perpaduanmu komplit, menguasai semua lini. Tapi menurutku, keputusanmu untuk melihat kearahku adalah keputusan yang salah. Aku adalah manusia dengan sejuta alasan tak lazim dikepala. Yang selalu memikirkan mengapa ada orang lain yang bukan dari keluargaku atau teman baikku mendeklarasikan kalau aku milik mu. Bagi remaja seperti ku itu adalah hal yang tak masuk akal. Bukankah butuh waktu lama untuk saling mengenal lantas akhirnya baru ada pendeklarasian?

Sedangkan penyuka semua warna, langit sore dan martabak keju setelah diingat-ingat memang itu adalah perpaduan yang terjadi di satu waktu. Kau masih ingat? Iya latar waktu dalam kejadian ini adalah sore hari, katanya kau selalu melihat langit sore tapi langit sore hari ini berbeda karena ada aku disampingmu, aih... manis sekali perkataan itu. Kita tampak tak serasi dengan pakaian yang tak senada, sehingga terlihat sekali rupanya diantara sore menjelang gelap. Saat itu obrolan kita adalah tentang hobi dan semacamnya. Sampai aku menanyakan pertanyaan klasik “warna kesukaan dan makanan favoritmu”. Terdengar seperti ingin menuliskan biodata ketika kita sekolah dasar dulu bukan? Kau tersenyum, kearahku. Kau bilang kau belum memutuskan untuk menyukai warna apa, karna semua warna akan terlihat cantik pada tempatnya. Perihal makanan kesukaan, kau malah bertanya balik ke arahku. Kita akhirnya memutuskan untuk menyebutnya secara bersamaan “martabak keju” lantas ekspresi kita beradu dan tertawa bersama setelahnya.

Flashback ku sudah selesai. Setidaknya aku bersyukur, yang ku ingat bukan kebodohan dan penyesalan. Tapi potongan kenangan dengan mu yang tak mungkin lagi terulang.

Jumat, 26 Juli 2019

Hal Pertama

Senin,  27 Mei 2019

Selalu ada Hal Pertama,  yang akan kamu jalani dalam hidup. Pertama kali berjalan,  pertama kali membaca,  pertama kali berhitung, dll. Sungguh...  Kau bahkan tidak bisa menghitungnya bukan?  Berapa banyak pertama kali yang sudah kau lalui. 

Dulu.... Aku sempat takut sekali. Untuk menjalani sebagian dari Hal Pertama itu. Dan ya... Ada beberapa Hal Pertama yang Gagal,  menguji mentalku. Seberapa kuat kau bertahan? Mungkin itu yang ingin disampaikanNya. 

Hari ini aku kembali menjalani Hal Pertama. Bertemu dengan permata-permata yang lucu. Mencoba masuk ke dunia mereka,  menjadi teman bahkan sahabat yang menyenangkan. 
"Ustazah,  hewan kesukaan nya apa?"
"Hobi,  makanan dan minuman favoritnya apa? "
"Tadi pagi sahur pake apa? "
Sungguh Nak... Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sontak membuatku menggelitik. Aku bahkan mencoba mengingat apa hewan kesukaan ku 😂😂 begitu banyak hewan yang pernah aku dekati. Bahkan ular pun pernah aku dekati untuk dibedah 😂😂

"Ustazah... Aku cape. Pengen batal puasa" 
Siang itu memang terik sekali. Tadi pagi kalian dengan semangatnya berbagi cerita tentang menu sahur. Siangnya kalian sudah mengeluh ingin berbuka. Ah nak...ini sungguh pembelajaran. Aku tak akan kaget jika nanti sudah saatnya aku menjadi... Ehmmm.... 😁

Harapan



Kau. Adalah harapan ayah ibumu.
Ketika kau lahir,  Kau adalah hadiah dari penantian mereka.
Terselip doa mereka di deretan namamu.
Terselip namamu diantara doa-doa panjang mereka.
Senyum mereka selalu menyapa setiap saat, sedih mereka sembunyikan, ditutup rapat-rapat.


Bahagiamu otomatis akan menjadi bahagia mereka ❤


Seperti hari itu... Sabtu,  26 Januari 2019.
Moment wisuda... Ayah sibuk mengambil gambar ketika aku masuk ruangan bahkan ketika namaku disebut,   meneriaku namaku dari atas, melambai-lambai tangan dan tersenyum. Mama pun begitu jadi tim hore ayah,  mengarahkan agar gambar yang diambil pas 😁 hualehhh tak berhenti tawa ini.


Pas keluar ruangan langsung buka-buka ijazah, mencoba mengerti apa artinya 😁

Selasa, 26 Juni 2018

Kenangan yang Terlupakan


Ah susah memang kalau ingatan tak setajam yang kuinginkan. Ketika teman lama menanyakan momen yang harusnya diingat, aku malah dengan muka tak berdosa menjawab "itu yang mana ya? aku lupa" sambil mesem-mesem sendiri. Kalau itu hal itu membuat penasaran aku kadang menggebu-gebu untuk diceritakan detail kejadiannya, setelah sekian lama bercerita aku mungkin bisa mengingatingatnya. Kalau sampai ingat aku langsung berteriah "ah ya... aku ingat" kali ini dengan nada tertawa bahagia karena merasa berhasil, hahaaaha!

Perihal melupakan, aku bersyukur Tuhan menciptakan memori seperti ini. Dia bisa memfiler dengan sendirinya mana memori yang harus diingat dan mana memori yang harus dibuang. Namun kadangkala yang dibuang seharusnya untuk diingat, dan yang diingat kadangkala kenangan menyakitkan yang seharusnya di buang. Ah sudahlah Tuhan pasti punya tujuan yang indah bukan? Tuhan ingin kita menjadikan memori yang menyakitkan sebagai pelajaran.

Kau pernah ingat atau pernah dengar kisah pemuda penghafal Al Quran pada zaman Rasulullah. Namanya ‘Abdah bin ‘Abdurrahiim yang jatuh cinta pada seorang wanita romawi?. Kecantikan wanita itu menyihir dirinya sehingga sampai lupa diri. Sampai-sampai dia mengirimkan sebuah surat cinta untuk wanita itu, begini tulisnya “Adinda, bagaimana caranya agar aku bisa sampai ke pangkuanmu?” Perempuan itu menjawab: “Kakanda, masuklah agama nashrani, maka aku jadi milikmu". Apa yang Abdah lakukan? Ya! dia menyetujui nya. Dia menjadi nasrani, sampai akhirnya Tuhan membuatnya lupa akan semua hafalannya. Hanya tersisa 2 ayat yaitu

رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ.
“Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang Muslim." 

ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ ۖفَسَوْفَ يَعْلَمُونَ.
 “Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (QS. Al Hijr: 2-3)

Seperti itulah, selalu ada campur tangan Allah di dalam setiap ingatan yang kita simpan. Allah bisa saja membuat kita mengingat semuanya, namun dengan mudah juga Allah bisa menghilangkan semuanya.

Selasa, 19 Juni 2018

Dear Diary....


Dear... Diary....
Hari ini aku pulang dengannya. Di bawah rintik hujan. Kami diam, tak ada satu patah katapun terucap. Dinginnya hujan membuat kami semakin beku. Sampai akhirnya tiba di ujung persimpangan gang rumahku. Dia pamit pulang, aku mengangguk pelan sambil berucap "terimakasih". Kami bepisah.
Sesampaiya dirumah, sebuah pesan masuk, "Jangan lupa basahi kepalamu dengan air hangat, air hujan bisa membuat kamu sakit" begitu bunyi pesannya. Aku hanya tersenyum, menutup pesan tanpa membalasnya.

Dear....Diary....
Hari ini aku sedang marahan dengannya. Ternyata ada yang disembunyikan olehnya selama ini dariku. Menghianatiku? Apa maksudnya?. Handpone ku sedari tadi berdering, puluhan pesan masuk dan puluhan panggilan tak terjawab sengaja aku biarkan. Sedang aku memasang wajah kesal sambil mengutuk dirinya dalam hatinya, apa? menangis? aku tak akan menangis karenanya! Isi pesan hanya permintaan maaf, yang dia kirim sampai menjelang pagi. Untuk apa pikirku? untuk menandakan bahwa ia tak tidur nyenyak semalaman? ah itu hanya akal-akalannya saja. Kita renggang. Tak ada sepasang diam yang pulang bersama lagi sepulang sekolah.

Dear...Diary....
Aku Lulus! Kami hilang kontak. Aku tak tau dia dimana sekarang. Anehnya aku semakin lama malah semakin melupakannya. Tak ada nama dia yang berbekas lagi di deretan memori pikiranku. Bagus! Aku bisa hidup tenang.

Yeahhhhhhh...
Itu adalah sebagian catatan yang dikutip dari diary jadul yang ditemukan di tumpukan buku-buku usang.

Sepasang diam.
Anehnya aku tak pernah rindu dengan suasana itu.
Anehnya memoriku memang benar-benar menghapus semua kejadian yang nyatanya memang harus tersimpan.
Aku biasa saja melihat barang-barang kenanganmu.
Aku biasa saja bahkan saat melihat profile mu sekarang bersama dengan yang lain.
Entahlah, aku yang bebal, atau mungkin memang kenangan itu sederhana untuk dilupakan.
Selamat malam, Semoga kau tenang!


-Maury-

Rabu, 14 Maret 2018

Rindu yang Tertunda






Jangan bicara Rindu untuk saat ini
Karena sakit akibat rindu belum waktunya kita rasakan
Memanfaatkan waktu untuk bertemu
Duduk bersama untuk mengulang cerita lama
Atau sekedar bercengkrama menikmati senja

Aku memang tak menyangkal
Jika setiap pertemuan akan berujung perpisahan
Namun waktu yang diberikan terasa sedikit sekali bukan?
Rasanya baru kemarin aku senang karena adanya keluarga baru
Rasanya perkenalan kita baru pagi tadi terlaksana
Dan senja penuh cerita itu juga kurasa terlalu singkat
Jika aku diberi satu permintaan
Pasti aku akan meminta untuk mengulang waktu
Mengukir cerita yang lebih indah bersama kalian
Karena buku ku belum sepenuhnya penuh dengan nama kalian

Matahari pagi menyambut dengan gembira
Ya, baru saja kita bertemu untuk jarak waktu yang cukup lama
Rindu itu sudah datang walau belum tepat pada waktunya
Satu hari, kita rasa cukup untuk menebus semuanya
Melupakan ego dan tenggelam bersama kebersamaan
Hei, hujan juga menemani perjalanan kita kali ini
Seakan hujan tak mau tertinggal namanya dalam cerita ini

Ketika makanan siap terhidang, uapnya bahkan mengundang
Aku merasakan obrolan santai itu kembali terdengar
Aku melihat tawa yang belakangan ini sudah jarang terlihat
Aku mendengar nyanyiian-nyanyian indah yang selama ini ku dengar
Namun lagi-lagi nyanyian itu sudah tak lama singgah di telinga
Aku merasakan kembali semangat itu
Semangat untuk tetap ada pada barisan
Semangat untuk tetap menebar kebaikan

Namun, kini kita sudah waktunya membuka lembaran baru
Mempersiapkan kertas dan alat tulis baru
Untuk kemudian menulis cerita perjalanan selanjutnya
Aku bahagia
Sehari ini setidaknya rindu itu tertunda datang
Untuk waktu yang cukup lama
Senja bahkan melengkapi cerita kita
Semburat cahaya merah jingga itu menemani perjalanan pulang
Kita diam, untuk menikmatinya sebentar
Tatapan mata kita bertemu disana
Untuk selanjutnya waktu kembali memisahkan kita
Selamat menikmati hari-hari penuh rindu
Kuharap tak ada kata sungkan untuk bertemu

 

-Maury-

Jangan Pergi Menjauh





Menjauh, bukanlah pilihan
Pilihan yang tersedia adalah mendekat atau semakin dekat
Bukankah kau pernah mendengar janjiNya?
Jika kau mendekatiNya dengan berjalan maka Dia akan mendekatimu dengan berlari
Romantis bukan?

Lalu, apa yang membuatmu enggan mendekat?
Kau pangkas rasa syukurmu denganNya
Pekerjaanmu kau jadikan alasan untuk lalai dalam sujud untukNya
Kitab sucimu kau biarkan berdebu
Nafsumu tak terkendali
Apa kabar ibadahmu yang lain?

Kau sebut apa ini?
MelupakanNya? MeninggalkanNya?
Ah sudahlah!
Pasti kau akan mengelak dengan sejuta alasan
Yang ku tau semua alasan itu pasti tentang dunia

Jika kau mengambil keputusan untuk menjauh
Ku peringatkan dari sekarang
Itu bukalah pilihan!
Kau akan bingung mencari arah hidupmu selajutnya
Tidak kah kau merasakannya sekarang?

Ku ingin genggam tangan mu kembali
Kita coba untuk saling menyeimbangkan
Bersama saling mengingatkan
Menasehati dalam kebaikan
Karena aku tak ingin bersamamu di dunia saja
Aku ingin mengajakmu menikmati indahnya Syurga yang telah dijanjikan

Jangan biarkan aku sendiri, karena berjuang sendiri itu akan berat
Aku ingin kau ada dan menemani
Hei! Jangan sesekali lepaskan genggaman tangan itu
Aku pun mungkin akan jatuh jika kau menjauh

#SelfReminder 
-Maury-

Senin, 12 Maret 2018

Ternyata, Kau Alasannya




Ingatkah kau?
Aku pernah bercerita tentang impianku.
Aku juga pernah mengakui kau menjadi salah satu inspirasinya.
Kala itu kau tersenyum, kuakui manis sekali.
Lantas kau menyemangatiku!

Hei, biarkan ku beritahu.
Walau mungkin kau tak ingin tahu.
Sejak kepergianmu itu, tunggu! aku lebih suka menyebutnya menghilang.
Karena jika menghilang kau pasti punya kekuatan untuk kembali lagi bukan?
Kau hanya perlu menyebut mantranya.
Ya, sejak saat itu kebiaasaanku juga menghilang, seakan ingin ikut bersamamu.

Entahlah!
Aku memutuskan untuk memilih kebiasaan baru.
Yang dengan kbeiasaan itu kuharap ku bisa menghapus memori tentangmu.
Bersusah payah untuk menyangkal hadirnya rindu.
Menghapus bayangmu yang seringkali mengganggu.

Jika begitu, Apakah benar hanya kau alasan atas kebiasaanku?
Kebiasaan yang bisa menghantarkanku kepada mimpiku.
Kau tau rasanya jika seorang traveler kehilangan peta? Tanpa arah bukan?
Mungkin itu yang aku rasa sejak kepergianmu.
Itu artinya aku pernah berbohong.
Karena mengatakan "Kau hanya salah satunya"
Tapi nyatanya?
Kau memang hanya satu-satunya alasan.

Sesuai harapanku.
Dengan jurusmu itu, kini kau kembali.
Melihat tatapan matamu seakan mengajakku untuk kembali melakukan kebiasaan itu.
Dan bodohnya, aku diam-diam menyetujuinya.
Tentu saja di depanmu aku pura-pura menolak.
Mengatakan kita sudah selelsai, jarak itu terlalu renggang untuk disatukan.
Tapi, dengan kehadiranmu kali ini, ku akui aku mendapat inspirasi ku kembali.
Aku tidak mengatakan itu didepanmu!

Biarkan aku berusaha melepaskan, lantas mengikhlaskan.
Dengan mengulang kebiasaanku, namun tanpa adanya kamu disampingku.
Bukankan Ahimsa pernah bilang "Jika cinta yang tidak menyatu, barangkali itu bukan cinta".

-Maury-

Sebuah Keputusan





Kau kembali?
Atas dasar apa?
Apakah ada kata yang belum tersampaikan?
Atau hadirnya penyesalan?
Bodoh memang,
Jika aku menyimpulkan kau kembali karena ada jejak hati yang tertinggal.

Melihatmu berarti membuka memori.
Melonggarkan jahitan-jahitan hati yang sudah lama ku rajut.
Asal kau tahu luka itu hampir mengering.
Itu artinya, Aku harus mengingat cerita lama yang sempat membuatku tertawa.

Tuan bisakah kau tak usah kembali jika hanya diam?
Aku butuh penjelasan dan alasan.
Jika kau berkata itu bukan urusanku, lalu mengapa kau melibatkanku?
Kau memaksaku untuk kembali memikirkanmu.
Semua kenangan itu, Indah memang. Tapi akhirnya tak bisa ku definisikan.
Ambilah keputusan. Kau lelaki bukan?
Pergi atau menetap disini bersamaku.

Terimakasih sudah kembali.
Untuk nama yang pernah melagit bersama doa-doa.
Dalam diam, rindu itu kembali hadir.

-Maury-