Senin, 07 Juli 2025

Perayaan Mati Rasa

Tulisan ini dibuat setelah saya menghabiskan waktu untuk menikmati karya indah dalam bentuk cinema, “Perayaan Mati Rasa”.

Semakin dewasa kita ngerasa bisa ngelakuin semua sendirian ya. Sampai kadang semua kegiatan kita yang dulu selalu kita bagi suka dan dukanya bersama orang tua, sudah tidak bisa lagi dibagikan. Entah apa alasannya… rasanya berbagi bukan hal yang menyenangkan saja untuk menjadi rutinitas. Kita yang beranjak dewasa dengan egoisnya memendam semua sendiri. Padahal… orang tua ingin sekali dilibatkan.

Kalau suatu saat Tuhan memanggil salah satu orang tua kita, lalu kita ngerasa belum sepenuhnya menghabiskan waktu bersama dengan baik kira-kira bagaimana rasanya ya? Penyesalan mungkin akan dominan kita rasakan. Mungkin kalau doa bisa menjadi perantara negosiasi, kita ingin sekali meminta kepada Tuhan memutar waktu barang sebentar untuk memperbaiki semuanya.

Hari pertama tanpa kehadiran ayah yang kadang kehadirannya setiap hari kita hiraukan terlihat hampa. Suasana rumah diikuti dengan suasana hati yang sulit dijelaskan, pikiran yang melalang buana tanpa peta hingga membuat ia tersesat berhari-hari. Suasana itu semakin rumit jika kita harus menjadi yang terlihat tegar di depan ibu dan adik. Kita merasa salah jika kesedihan ini berlarut-larut karena biasanya kita memang terlihat “bisa mengatasi semua dengan baik”.

Duka. Episode dalam hidup yang mau tidak mau harus kita jalani. Tapi bagaimana duka itu diurai semestinya ternyata aku si paling bisa sendiri ini memilih untuk tegar berdiri tanpa air mata. Berusaha biasa saja, menjalani hari seperti sedia kala padahal dalam pikiran riuh tak hingga. Siapa yang mengambil peran mengabarkan keluarga besar tentang kepergian ayah? Siapa lagi kalau bukan aku si anak pertama yang terkenal tidak dekat dengan keluarga. Siapa yang berperan menjaga mama setelah kepergian ayah? Tentu aku si anak pertama yang punya banyak sekenario yang bisa membuat mama tidak sedih berlarut. Siapa yang menurunkan ego untuk akhirnya meninggalkan hal yang disukai demi mengurus luka semua orang akibat duka? Tentu aku si anak pertama yang menginginkan semua keluarga bisa sembuh cepat.

Setelah kepergiannya, banyak hal yang aku tau tentang ayah yang selama ini ia sembunyikan. Ia sungguh ingin ada dalam setiap tahap tumbuh kembang anaknya, namun karena rasa tanggung jawab yang membuat ia harus bekerja jauh dari keluarga membuatnya diam-diam dibunuh rasa bersalah padahal ia mencoba menjalani perannya dengan baik. Ia tidak menampakan kesedihannya ketika tidak bisa menghadiri upacara wisuda kita, ayah juga tidak menunjukan penyesalannya ketika banyak momen penting yang membutuhkan kehadirannya namun ia tidak ikut serta. Begitulah ayah hidup dengan kesunyiannya, begitulah ia membiarkan kita menerka bahwa rasa cintanya tak cukup luas untuk kita rasa. Padahal diam-diam ia menyimpan tangis yang hanya bisa didengar oleh telinganya saja.

Ayah menyesal tidak menunjukan rasa cintanya. Ayah menyesal karena ia membiarkan asumsi kita terus menumpuk hingga akhirnya menggunung membuat kita merasa ada atau tidak adanya dia dalam hidup kita rasanya sama saja. Kata ayah, “mungkin ini harga yang harus ayah bayar karena hidup jauh dari kalian”. Ayah ingin mencoba memperbaiki semuanya ketika kita beranjak dewasa. Sedang kita yang sudah merasa dewasa ini merasa sudah terlambat. Sosok ayah penggambarannya sudah tidak bisa diubah, alat hapusnya sulit ditemukan. Sampai Tuhan memanggil ia ke pelukanNya, ia belum bisa memperbaikinya.

Namun tenang saja Ayah... anak pertama yang terlihat cuek ini menjadi yang tiba-tiba paling peduli dengan semua tentangmu. Rasa cinta yang tadinya tidak terlihat luas, kini lebih luas dari lautan. Kalau boleh berandai lagi, sebelum kita berpisah aku ingin mengucapkan “terima kasih telah hadir” menjadi yang berusaha membangun keluarga kecil dengan semua yang kau punya. Aku akan terus menyukai Laut, karena ada dirimu yang terus berlayar di sana.



Selasa, 24 Juni 2025

Kesetiaan Mr X

Sepertinya ini adalah serial detektif pertama yang ku baca. Kesetiaan Mr X Karya Keigo Higashino. Membaca serial detektif tentu membutuhkan pikiran yang lebih fokus karena setiap dialognya mengandung teka teki yang bisa diurai untuk memecahkan masalah.

sumber : ebooks.gramedia.com

Latar cerita awal dari novel ini menggambarkan keadaan kolong jembatan yang berisi kehidupan tunawisna. Penggambaran itu berkali-kali disebut dalam beberapa alur karena sangat berkaitan dengan tokoh utama “Daruma Ishigami”. Bukan tempat tinggalnya, kolong jembatan merupakan pemadangan yang selalu dilihat karena ia melewati jalan tersebut dari rumah menuju tempatnya bekerja. Ishigami adalah seorang genius yang suka sekali memecahkan berbagai persoalan matematika. Kecerdasannya menandingi professor sekalipun. Namun profesi yang ia pilih adalah guru matematika SMA. Kehidupan ishigami seperti jarum jam yang berputar pada porosnya, begitu-begitu saja. Bahkan dengan kegeniusannya ia tak berminat menarik simpati banyak orang. Tak ada yang tau seberapa genius dirinya, kecuali temannya semasa kuliah, Manabu Yukawa. Jika Ishigami adalah ahli matematika, maka Manabu Yukawa adalah genius dalam bidang fisika.

Polisi menemukan mayat di suatu tempat sampai akhirnya menyelidiki orang-orang yang berkerabat dengan korban. Menurut polisi, identitas mayat tersebut adalah Togashi, ia memiliki mantan istri bernama Yasuko dan anaknya bernama Masito yang juga tinggal bersama ibunya. Memang benar, Yasuko adalah pembunuh Togashi. Ia sudah lelah dengan perlakuan mantan suaminya yang masih terus mengganggu hidupnya bahkan sampai memeras dirinya. Malam itu terjadilah pembunuhan Togashi oleh Yasuko dan anaknya, pembunuhan itu tidak berencana, tejadi begitu saja karena memang awalnya Yasuko hanya membela diri dari serangan Togashi.

Ishigami, adalah tetangga Yasuko. Mereka tinggal di unit apartemen sehingga keributan yang terjadi di unit Yasuko bisa didengar oleh Ishigami. Awalnya Ishigami menanyakan apa yang terjadi, Yasuko berkata tidak terjadi apa-apa. Sampai akhirnya Ishigami mengutarakan niatnya untuk membantu Yasuko mengurus mayat Togashi. Dengan kata lain, ishigami yang genius sudah menduga bahwa Yasuko membunuh Togashi.

Ishigami menyusun rencana yang sangat rapi, sekenario yang membuat detektif tidak menduga apa yang sebenarnya terjadi. Penyelidikan detektif berjalan dengan berkali-kali meminta penjelasan dari beberapa orang yang berkaitan dengan Togashi. Tentu Yasuko dan Ishigami juga dimintai keterangan. Namun kasus pembunuhan itu tidak menemui titik terang. Hipotesa bercabang dan tidak menemukan kesimpulan. Sampai akhirnya Ishigami menyerahkan diri ke polisi dan mengaku bahwa ia yang membunuh Togashi.

---

Sebenarnya, penjelasan saya diatas bukan inti dari ceritanya. Ada plot yang membuat saya membelalakan mata tidak percaya dengan apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan latar kolong jembatan yang saya ceritakan di awal bukan hanya menjadi penggambaran yang biasa. Awalnya saya sempat bergumam, mengapa cerita ini bertele-tele dan kita sebagai pembaca sudah diberi tahu di Bab awal bahwa pelaku pembunuhan Togashi adalah Yasuko dan Ishigami membantu membereskan mayatnya. Tapi ternyata bukan itu yang mau disampaikan penulis. Saya tak menyangka bahwa serial detektif menyimpan cerita romance yang sungguh pelik.

Pengorbanan Ishigami untuk Yasuko tidak hanya sampai “membantu membereskan mayat”. Ia benar-benar mengorbankan hidupnya untuk Yasuko. Nahas nya Yasuko tidak pernah menyadari itu. Yasuko hanya berpikir Ishigami hanya sebatas “tertarik” kepadanya. Yasuko tidak menyangka akan ada orang yang mempertaruhkan semuanya untuk dirinya. Bagi Ishigami, Yasuko dan Misato adalah dua titik yang mengubungkan ia dengan dunia. Mereka hadir seperti keajaiban yang membuat Ishigami memiliki alasan kembali untuk menjalani harinya.

Selain menceritakan pengorbanan Ishigami untuk Yasuko, di serial ini kalian akan menemukan sosok Ishigami yang sangat menggilai matematika. Kata Ishigami “Jika matematika adalah mineral terkubur, bahkan waktu seumur hidup pun terbilang pendek untuk menggali semuanya”. Ia hanya perlu pensil dan kertas untuk menekuni hobinya yaitu menyelesaikan banyak persoalan matematika. Dengan begitulah otak Ishigami terus terasah, membuat Profesor Yukawa mengakui bahwa Ishigami adalah lawan terberatnya. Kalian juga akan disuguhi kepintaran Yukawa yang hari-harinya dihabiskan untuk penelitian. Kepintaran Yukawa sungguh tak terduga dalam memecahkan kasus pembunuhan. Dua genius itu memang lawan yang seimbang.


Jumat, 13 Juni 2025

Seporsi Mie Ayam yang Mengubah Takdir

Membaca novel “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati” membuat saya bernostalgia pada hari di mana saya merasa menjadi manusia paling menyedihkan di dunia. Malam itu, saya ingin mengeluarkan kecamuk dalam pikiran dengan menangis (saya sempat berfikir, sudah lama saya tidak menangis). Menjadi orang yang menjalani hidup seperti air yang mengalir ternyata membuat saya berakhir mempertanyakan diri sendiri “apakah ini benar?”, “apakah tidak apa terlalu santai?”, “apakah pencapaian hanya sebatas ini saja?”. Berbagai pertanyaan yang mengurangi rasa percaya diri saya terus terngiang.

Seakan semesta berpihak, tiba-tiba timeline media sosial memperlihatkan pencapaian teman-teman saya yang terlihat luar biasa. Saya merasa semakin kerdil. Bukan rasa iri yang dominan muncul, melainkan penyesalan sehingga rasanya ingin memaki diri sendiri. Malam itu, air mata yang memang sepertinya sudah harus keluar tanpa aba-aba tumpah juga. Saya ingin menjerit, namun kamar ini bukan sebuah tebing tinggi yang bisa menyamarkan suara jeritan. Saya ingin meluapkan semuanya, namun lagi-lagi ruangan ini bukan ruang kedap suara yang sengaja dicipta untuk meluapkan sesal dan kesal. Saya hanya bisa menangis dengan suara tertahan, sampai akhirnya kelelahan dan tertidur dengan sendirinya.

Hah… tak disangka prolog tulisan ini begitu panjang. Awalnya ingin menceritakan apa yang saya dapat setelah membaca novel “Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati”

 

sumber : static.vecteezy.com


Menurut saya mie ayam menjadi banyak favorit banyak orang, karena rasanya enak dan harganya murah. Mie ayam bisa menjadi alasan kita “bahagia” walau sebenarnya hari itu sedang tidak berpihak kepada kita. Itu juga yang dirasakan oleh Ale, tokoh utama dalam novel ini. Ale merasa hidupnya sudah tak ada yang spesial, merasa bahwa ada atau tidak ada dirinya tidak ada yang berubah, bahkan ia merasa semua orang yang ia temui memandangnya dengan rasa tidak suka. Tidak ada dukungan dari keluarganya pun membuat tekad Ale untuk bunuh diri begitu nyata.

Namun, sebelum bunuh diri ia ingin sekali menikmati mie ayam langganan nya. Siapa sangka pencarian keinginan terakhir itu ternyata tidak semudah “makan mie ayam, lalu mati”. Ale kembali menyalahkan diri sendiri, keinginan sederhana saja tidak bisa ia wujudkan. Sehingga ia mencoba mencari apa sebabnya mie ayam itu tidak buka kembali. Pencarian mie ayam ternyata membawanya menjalani takdir yang berbeda dari yang Ale jalani sebelumnya. Alur cerita kehidupan Ale berubah. Ale menjadi seseorang yang berbeda dengan Ale yang biasanya ia tampakan kepada teman-teman nya di kantor juga kepada keluarganya.

Perjalanan ini akan benar-benar panjang, sampai Ale menemukan banyak hal yang ingin ia dengar, menemukan banyak orang yang menghargainya, merasa dirinya dibutuhkan, Ale juga melihat pertama kali orang lain menatap matanya dengan berbinar karena ia bercerita tentang profesinya, mendapatkan jamuan hangat dari seseorang yang mengagumi Ale karena kebaikannya. 

Ale selama ini hanya hidup dengan pikiran-pikiran negatifnya. Tidak ada yang memberi tahu kalau Ale itu hebat. Kalau Ale itu baik hati. Kalau Ale itu adalah teman ngobrol yang menyenangkan. Kalau kehadiran Ale membuat banyak dampak bagi banyak orang. Ternyata Ale bisa membagi apa yang ia punya dengan orang lain. Tapi semua rasa itu selama ini tertutup dengan sudut pandang Ale melihat dunia “bahwa semua orang membencinya dan ia tidak pantas di dunia ini”.

Dari cerita Ale, baiknya kita mencari lingkungan yang bisa menghargai kita ya. Yang ketika kita bertumbuh di dalamnya, kita menjadi bunga yang cantik. Tidak harus membicarakan hal-hal luar biasa seperti impian banyak orang dengan harta yang berlimpah, bertumbuh dengan orang-orang sederhana dengan mimpi sederhana pun asal bisa membuat kita melihat sisi hidup yang lebih baik itu bisa menjadikan alasan  untuk terus bertahan di kehidupan ini. Jangan sendirian, karena jika Allah menakdirkan kita berkumpul kembali di SurgaNya, akan lebih menyenangkan jika bernostalgia bersama.

Malam itu, saya rasa... saya memandang dunia dengan berlebihan. Sehingga cerita kehidupan yang saya jalani terasa tertinggal. Saya tidak punya pikiran untuk bunuh diri seperti Ale. Karena setelahnya saya bisa berpikir lebih baik dan menemukan banyak alasan untuk menjalani hidup kembali. Alasan sederhana itu sampai sekarang menjadi salah satu alasan saya merasa "hidup saya layak untuk dijalani".

cover novel "Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati" karya Brian Khrisna

 

Rabu, 13 November 2024

Officer Black Belt

Berawal dari melihat postingan seseorang yang mengatakan "saya ngerasa belakangan ini saya cepat bosan menonton video dengan durasi panjang karena setiap hari mengkonsumsi video pendek dari media sosial". melihat postingan itu, saya mengoreksi diri sendiri sehingga akhirnya menyetujui apa yang ia katakan. Sepertinya, 5 tahun yang lalu saya suka sekali menonton drama korea yang durasi nya panjang. Namun setahun belakangan ini saya merasa ketertarikan saya akan drama mulai memudar. Bahkan ketika teman-teman saya mengisi obrolan dengan drama yang sedang banyak dibicarakan saya sama sekali tidak bisa menimpali obrolan mereka. Tidak menonton drama bukan berarti hari-hari saya lebih produktif ya hehee. Saya rasa media sosial belakangan lebih menarik dilihat, dari beberapa jam saja kita bisa mendapat banyak informasi, entah itu berita terkini sampai resep masakan yang ingin saya coba namun selalu berakhir di arsip penyimpanan saja.


--spoiler alert!--

Officer Black Belt, akhirnya film ini menjadi pilihan tontonan saya malam ini. Tentu tanpa popcorn, cemilan atau minuman manis, karena malam hari waktunya saya menahan godaan untuk menambah asupan makanan. Film ini ber-genre laga komedi. Salah satu genre favorit saya. Namun ajaib ceritanya bisa membuat saya meneteskan air mata di menit-menit terakhirnya.

Dalam film itu diceritakan bahwa negara Korea Selatan memiliki petugas yang mengawasi orang-orang yang baru keluar di penjara. Mereka yang baru keluar dari penjara dipasangkan gelang hitam sebagai pelacak pergerakan mereka yang terpasang di kaki mereka. Tujuan nya supaya kejahatan yang dahulu mereka lakukan sebelum di penjara tidak terulang lagi, karena dengan gelang itu sebagai penanda mereka masih dalam pengawasan.

Diare (aka Lee Jung Do), adalah panggilan nya. Dia mempunyai tiga sahabat dan satu Ayah yang sangat menyayangi nya. Hangat sekali di awal melihat komunikasi sehat di antara mereka. Ayahnya memiliki kedai makanan, kegiatan ia sehari-hari adalah membantu ayahnya mengantar ayam goreng ke konsumen dan di sela-sela itu ia isi dengan bermain games dan berlatih bela diri. Bela dirinya luar biasa keren, dia tak terkalahkan. Sampai akhirnya ia ditawarkan untuk bergabung menjadi salah satu "petugas bela diri" di officer black belt.

Kasus yang diangkat dalam film ini adalah kebanyakan tentang pelecehan seksual yang dialami wanita dan anak-anak. Berkali-kali Jung Do berhasil dalam operasi misi pencegahan kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang dalam pengawasan gelang tersebut. Kisah yang membuat sedih adalah ketika Jung Do berhasil menyelematkan seorang anak yang akan menjadi korban pelecehan. Dia tertusuk dan sekarat sampai kehilangan kerabatnya sesama petugas. Namun kabar baiknya dia selamat, kabar buruknya penjahat seksual itu tidak tertangkap.

Jung Do mendapat ucapan terima kasih dari keluarga korban namun ucapan terima kasih itu dilanjutkan dengan kabar bahwa anak tersebut akhirnya trauma dan tidak berani keluar rumah dalam waktu yang lama. Mendengar kabar itu Jung Do akhirnya bertekad untuk menangkap penjahat itu apapun yang terjadi. Ia dibantu teman-teman nya menjalankan misi tersebut. Dengan segala kecerdikan mereka akhirnya mereka berhasil menangkap penjahat tersebut.

Dialog dan pembawaan ekspresi semua pemain sampai sekali di saya pribadi sebagai penonton. Adrenalin, komedi dan kisah yang menyayat hati berhasil di suguhkan dengan epik. Saya berhasil menumpahkan emosi negatif karena terlalu kesal dengan penjahat-penjahat yang ada di dalamnya. Seperti nya mereka diciptakan untuk menjadi sampah yang sulit di basmi di bumi. 

Akhirnya, jiwa saya yang sabar menonton film dengan durasi lebih dari 1 jam ternyata masih ada. Saya suka sekali menonton di bioskop, namun entah kenapa jika untuk meniatkan menonton di laptop atau hp saya harus berfikir berkali-kali, lagi-lagi pelarian saya ke media sosial. Hari ini saya senang, karena otak saya kembali tereflash dengan alur cerita officer black belt.

Minggu, 03 November 2024

Menerima Ketika Dewasa

Takdir kadangkala jalan nya membuat terkejut. Tak pernah terbesit dalam pikiran ku jika aku akan menjadi salah satu dari seorang yang merasakan "sesuatu itu". Manusia yang sebagian hidupnya tidak luput dari rasa kurang percaya diri. Sulit mengungkapkan apa keinginannya. Bekerja dalam diam dan tenang. Lebih memilih di balik layar. Bahkan rasa integritas dan loyalitas nya belum sepenuhnya ia berikan. Ia hanya berjalan mengikuti alur. Mencoba melakukan apa yang ia bisa tentu dengan bantuan banyak rekan.

Halaman ini dipilih oleh Tuhan untuk aku yang akan memulai cerita baru. Rasa nyaman yang sudah aku bangun bertahun-tahun nyatanya harus kembali menyesuaikan dari awal. Teman berbagi tawa dengan rupa yang sama setiap harinya sepertinya kini harus berganti dengan wajah baru dan suara tawa yang baru pula. Susunan meja dan kursi yang berdempetan juga berhadapan mungkin tidak aku temukan lagi di sana. Aku masih sama, aku adalah orang yang ter-deskripsi pada paragraf pertama. Apakah bisa kau bayangkan, betapa lelah hari-hari itu aku lalui dengan pikiran yang penuh di kepala?

Apa harus aku? Mengapa harus aku? Sebanyak apapun aku bertanya dan sebanyak apapun jawaban yang aku dengar sampai saat ini belum ada yang jawaban yang bisa aku terima dengan lapang. Aku berkata "ya" artinya "aku menerima". Tapi nyatanya penerimaan di usia dewasa mengandung banyak makna. Menerima bukan berarti setuju. Menerima bukan berarti bersedia. Menerima bukan berarti bahagia. Menerima saat ini seperti keharusan "melanjutkan hidup". Bahwa ada campur tangan Tuhan yang tidak bisa aku halau dengan apapun.

Sudah sekitar 5 bulan sejak keputusan itu. Aku masih dengan orang yang sama. Yang pasti ter seok-seok mengikuti irama baru kehidupan. Mencoba bertahan di tengah guncangan badai perasaan. Ternyata benar, walau terlihat mudah, banyak hal tersembunyi yang tak bisa aku ceritakan. Aku sedang menerka apa yang aku jalani sudah benar? Arus mana yang harus aku ikuti? Apakah aku harus melawan arus?

Selamat malam, dari aku yang sedang bingung di batas ambang.


Sabtu, 12 Februari 2022

Keputusan Terbaik




Masa akhir sekolah menengah atas pasti dihantui berbagai macam pikiran tentang sebuah rencana masa depan. Apa yang harus aku lakukan setelah melepas masa putih abu-abu ini? Tak sedikit waktu memikirkannya, mencoba merencanakan sesuatu dengan mempertimbangkan baik dan buruknya. Tujuh belas tahun adalah awal dimana keputusan yang kita pilih menentukan bagaimana kita kedepannya.

Sebagai seseorang yang saat itu minim relasi di usia remaja, aku termasuk kelompok remaja yang sampai menjelang akhir kelulusan masih bingung menentukan jurusan kuliah apa yang akan aku ambil. Aku termasuk orang yang jarang bahkan hampir tidak pernah untuk menyuarakan pendapatku di depan publik. Seseorang yang bahkan gemetar jika diminta untuk maju ke depan kelas. Lebih nyaman jika tidak terlihat dan memilih untuk memberikan kesempatan-kesempatan kepada teman lain. Keberanianku saat itu mungkin dibawah level rata-rata. Menjadi guru sama sekali tidak ada di list impianku saat itu.

Kata-kata motivasi menjelang kelulusan kami intens diberikan kepada guru-guru kami. Tujuan nya supaya kami mendapat pencerahan dan yakin untuk memilih apa yang harus kami putuskan. Hari itu adalah pelajaran bahasa inggris, salah satu pelajaran yang tidak aku minati, tapi karena aku menyukai gurunya jadi fokusku pada pelajaran itu aku berikan sepenuhnya. Di tengah pelajaran ibu guru dengan penampilan teduh itu memberikan sebuah motivasi yang satu kalimatnya aku ingat sampai hari ini “pekerjaan yang paling baik untuk wanita adalah menjadi seorang guru”.

Beliau membagi pengalamannya selama menjalani profesi menjadi guru. Ada tugas utama dari seorang wanita yaitu menjadi madrasah pertama bagi anaknya. Ketika seorang wanita disibukan dengan pekerjaan di luar dan menyita banyak waktu, ada sesuatu yang di khawatirkan yaitu komunikasi dengan anak-anaknya hanya sedikit. Tentu ini tidak berlaku untuk semua wanita, karena ada wanita yang bisa menghandle kehidupan di dalam rumah dan di luar rumah dengan sangat baik. Menjadi guru adalah salah satu solusi untuk wanita yang ingin tetap bekerja dan memiliki komunikasi yang banyak dengan anak. Karena jam kerja guru tidak sebanyak jam kerja pegawai perusahaan. Dengan menjadi guru juga kita bisa melatih diri untuk memahami karakter anak-anak.

Sekolah, selain menjadi tempat bekerja bisa sekaligus menjadi tempat belajar menjadi ibu. Karena sejatinya, guru adalah orangtua ideologis bagi murid-muridnya. Yang setiap hari dengan tulus dan ikhlas mengajarkan tentang akhlak, budi perkerti, ilmu akhirat dan bagaimana kehidupan di dunia.

Sejak mendengar kisah dan nasihat dari guruku itu, aku akhirnya mantap memutuskan untuk menjadi guru.

Suatu hari, ketika aku sudah waktunya lulus dari dunia perkuliahan, seorang teman bertanya apa yang akhirnya menjadi alasanku untuk menjadi guru. Aku ceritakan persis sama seperti tulisanku saat ini.

“Kamu pas SMA udah berfikir sejauh itu?”

Aku kembali berfikir.

Benar juga.

Kenapa aku bisa berfikir sejauh itu ya.

Walaupun banyak campaign bahwa carilah sesuatu yang kamu sukai dan pilihlah jurusan dari sesuatu itu. Jangan pikirkan jurusan kuliahmu hanya untuk pekerjaan di masa depan. Karena kalau kamu menjalaninya dengan baik, pekerjaan akan mencarimu dengan sendirinya.

Entahlah, campaign tadi tidak berlaku untukku. Aku memilih untuk mencoba sesuatu yang baru, menjalaninya, lalu menikmati rencana yang aku buat di masa depan.

Kembali lagi, hidup itu pilihan kan? Apa yang kamu pilh tentu akan meminta pertanggung jawaban kamu. Aku harap keputusan-keputusan yang aku buat bisa aku jalani dengan penuh tanggung jawab dan bisa membuat aku bahagia di masa lalu, masa kini maupun masa depan.


Minggu, 27 Desember 2020

Apa definisi bahagiamu?

 



“Tidak ada yang terlahir jelek. Kita hanya terlahir dimasyarakat yang suka menghakimi”

Aku sudah lama mendengar kata-kata itu. Kata-kata itu dari Kim Namjoon, seorang leader pada sebuah grub idol kpop. Seakan menjadi penyembuh untuk kita yang suka merasa insecure entah itu karena wajah kita atau karena tampilan kita. Bisa juga karena pola pikir kita yang menurut kita belum bisa sehebat orang lain. Atau karena kesuksesan kita yang menurut kita masih terlampau jauh untuk dibilang sebuah keberhasilan. Kenapa kita selalu membandingkan diri kita dengan orang lain? Dan kenapa orang lain seakan berhak untuk menghakimi kehidupan kita?

Aku yakin, orang hebat sekalipun yang terlihat sempurna di mata dunia pasti pernah merasa tidak percaya diri dengan apa yang dia punya. Sebenarnya solusi dari permasalahan ini adalah sabar dan syukur kan? Tentu kedua kata itu terlihat mudah terucap namun sulit sekali dilaksanakan. Kita diminta sabar ketika ada seseorang yang menghakimi kita. Kita juga diminta bersyukur untuk semua yang Tuhan berikan kepada kita. Tapi aku rasa menangis bukanlah pilihan yang buruk jika kita sudah merasa muak dengan semuanya.

Selain sabar dan syukur, bahagia adalah kunci untuk bertahan hidup di dunia. Definisi bahagia setiap orang pasti berbeda bukan? Anak kecil akan bahagia hanya karena sebuah permen, seorang pedagang akan bahagia jika ada yang tertarik dengan barangnya, seorang penulis akan bahagia jika tulisanya bisa bermanfaat untuk orang lain. Semua punya definisinya. Aku harap, kamu, aku dan kita semua punya alasan bahagia yang begitu banyak. Sehingga tak ada waktu untuk menyalahkan diri sendiri. Menangis dalam sepi memikirkan pendapat orang lain yang menghakimi. Tidak ada yang sempurna karena “Kita hidup untuk menjadi nyata, bukan menjadi sempurna (Suga-BTS)”.

Sabtu, 09 Mei 2020

Tak Ada Jawaban Setelah Temu





Secangkir kopi tanpa adanya obrolan terlihat tidak spesial. Hanya berteman sepi, aku mencoba tetap menikmati. Tanaman kaktus tersenyum yang disediakan di meja menjadi teman bisu saat ini.

Lalu kau datang. Dengan sopan mengucap salam dan menyapa dengan kata “Hai”. Layaknya seperti tumbuhan puteri malu, reaksiku pun langsung tertunduk malu. Tak berani menatap netra matamu.

Obrolan apa yang diharapkan dari dua manusia yang tidak bisa mencairkan suasana? Aku tak tahu ini terjadi karena kita sama-sama kaku atau degub jantung kita yang iramanya tak menentu. Lima tahun lalu rasanya kita bisa bercengkrama tanpa kenal waktu. Mengapa sekarang susah sekali hanya untuk mengurai rindu?

Lima belas menit berjalan, kita masih ditemani diam. Secangkir kopi sudah menjadi sepasang. “Apa kabar?” kurasa cukup untuk memulai perbincangan. Kau menampakkan senyum. Seperti “lega” akhirnya hening mulai menemukan suara.

Sebuah kotak kecil berwarna abu-abu kau sediakan dihadapanku. Jangan tanya aku masih mengingatnya atau tidak. Tentu semua tentangmu masih melekat baik di memoriku.

“Permintaanmu sudah ku tamatkan. Bukalah selagi kau sendiri” kalimat panjang akhirnya tercipta darimu.

Aku mengambil kotak itu, meletakkannya di tas punggung ku.

“Maaf aku harus pamit” katamu, suara itu nyaris tak terdengar ditelingaku.

Aku bertanya dalam hati “Apakah hanya ini yang bisa kita lakukan setelah jutaan detik kita tak bertemu?”. Aku terlalu pengecut untuk mengutarakannya langsung padamu. Hanya anggukan dari ku yang tercipta setelah kau ucap kata pamit. Bibirku terlalu kelu untuk mengungkapkan 10 atau 20 pertanyaan yang berkecamuk di kepala.

Kau pergi, memperlihatkan punggungmu yang berlangsung menjauh dari pandanganku. Kau melupakan sesuatu, tak ada kata “Selamat Tinggal” untuk pertemuan kali ini. Setidaknya berikan kepastian, aku harus menunggumu atau melupakanmu.

Jumat, 17 April 2020

Ingat ini di Masa Depan



Tulisan ini dibuat sebagai pengingat, bahwa di bulan kedua tahun 2020 dunia dihebohkan dengan adanya virus baru yang mematikan dan penyebaran sangat cepat. Dunia medis menyebutnya COVID-19, sedangkan masyarakat sekitar kebanyakan menyebutnya Virus Corona. Virus ini awal mula muncul di negara tirai bambu, tepatnya di kota Wuhan. Penularan dangat cepat melalui droplet si penderita. Oleh sebabnya menjaga kebersihan adalah salah satu kunci terhindar dari virus corona.

Rumah sakit tiba-tiba menjadi penuh dengan pasien Covid, dokter dan perawat menjadi garda terdepan penanganan virus ini. Sampai akhirnya virus menyebar ke berbagai negara di dunia, tak terkecuali negaraku, Indonesia.

Indonesia pertama kali terpapar virus corona terhitung awal bulan Maret, diawali dengan seorang pegiat seni dibidang tari berasal dari kota Depok. Masyarakat menjadi sangat panik, semua orang berbondong-bondong membeli kebutuhan sehari-hari untuk akhirnya mengurung diri di rumah, meminimalisir penularan. Korban dari hari ke hari semakin bertambah banyak. Sampai saat ini, Jumat 17 April 2020 tercatat sudah 5.923 kasus positif, dengan 520 orang meninggal dan 607 orang sembuh yang terbesar di 34 provinsi di Indonesia.

Sebagian masyarakat mengikuti dengan tertib anjuran #dirumahaja. Namun sebagian yang lain masih saja berjibaku di luar rumah, entah karena alesan pekerjaan, sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan, atau mungkin memang ada segelintir orang yang merasa tidak peduli dengan wabah ini. Tipe orang terakhir memang sangat menyebalkan, tak pernah memikirkan dampak dari segala perilakunya.

Setiap harinya berita di televisi, surat kabar maupun media sosial tak pernah absen berbicara tentang Covid-19. Seakan kami semua setiap hari sudah terbiasa dengan berita buruk. Ikut sedih dan menangis ketika melihat dokter dan perawat sebagai garda terdepan harus menjadi korban juga. Tak hanya mereka, profesi polisi, tentara, bahkan supir ambulans pun harus tetap bekerja untuk membantu memakamkan jenazah korban corona.

Katanya, bumi sedang ingin istirahat dari hiruk pikuk kehidupan manusia. Planet yang sudah dengan sukarela ditinggali manusia ini butuh ruang bebas unuk bernapas lega. Tak ingin ada polusi yang pekat seperti biasa. Tak ingin ada ulah manusia yang ada-ada saja tingkahnya untuk merusak alam semesta.

Kalau sudah begini keadaannya, tak ada cara lain selain berdoa kepada Maha Kuasa. Menundukkan kepala, bersuara dengan lirih dan memejamkan mata, berucap pinta dengan merendahkan diri dengan kesungguhan kita. Tuhan mungkin rindu dengan suara pinta hambaNya. Karena selama ini kita hanya sibuk dengan kehidupan dunia yang nyatanya hanya sementara saja.

Bulan Ramadhan satu pekan lagi. Aku dan semua muslim di dunia tentu mengharapkan keajaiban di bulan yang suci ini. Ingin sekali merasakan suasana seperti biasa. Berjamaah dan berlomba dalam mencari pahala. Semoga Allah mengabulkan doa-doa kita, Aamiin.

Kamis, 16 April 2020

Penyuka Semua Warna, Langit Sore, Martabak Keju dan Kamu



Tehitung sejak akhir Maret, karantina #dirumahaja memaksa ku untuk melakukan hal-hal yang tidak biasa aku lakukan. Bukan seperti aktivitasku biasanya yang selalu berangkat pagi buta dari rumah dan selalu pulang ketika matahari ingin beranjak tenggelam.

Hari ini aku memutuskan untuk membongkar semua isi lemari. Kau pasti tau, hal yang pasti terjadi dari aktivitas itu adalah ditemukannya tumpukan buku berisi kenangan. Aku tertawa untuk beberapa lembar catatan usang yang ku baca ulang, mengingat kembali momen-momen itu. Seperti jiwaku ingin berkelana kesana. Menertawakan kebodohan dan menangisi penyesalan.

Dari sekian banyak catatan tanpa jeda setiap lembarnya, ada satu catatan yang membuatku seperti mengingat kembali apa yang mendasari ku menulis itu. Keras putih bercoretkan tinta hitam itu tertulis “penyuka semua warna, langit sore, martabak keju dan kamu” hanya satu kalimat. Tanpa penjelasan yang panjang. Ah dasar, memang aku si pelupa dalam segala hal, sampai-sampai kalimat itu membuat konsentrasiku terganggu di setiap detiknya. Mengingat-ingat apa yang membuat aku menuliskan kalimat itu.

Kamu...iya kamu yang dimaksud dalam tulisan itu pastilah kamu. Manusia keras kepala tapi selalu sabar akan sikap masa bodo ku. Kata orang perpaduanmu komplit, menguasai semua lini. Tapi menurutku, keputusanmu untuk melihat kearahku adalah keputusan yang salah. Aku adalah manusia dengan sejuta alasan tak lazim dikepala. Yang selalu memikirkan mengapa ada orang lain yang bukan dari keluargaku atau teman baikku mendeklarasikan kalau aku milik mu. Bagi remaja seperti ku itu adalah hal yang tak masuk akal. Bukankah butuh waktu lama untuk saling mengenal lantas akhirnya baru ada pendeklarasian?

Sedangkan penyuka semua warna, langit sore dan martabak keju setelah diingat-ingat memang itu adalah perpaduan yang terjadi di satu waktu. Kau masih ingat? Iya latar waktu dalam kejadian ini adalah sore hari, katanya kau selalu melihat langit sore tapi langit sore hari ini berbeda karena ada aku disampingmu, aih... manis sekali perkataan itu. Kita tampak tak serasi dengan pakaian yang tak senada, sehingga terlihat sekali rupanya diantara sore menjelang gelap. Saat itu obrolan kita adalah tentang hobi dan semacamnya. Sampai aku menanyakan pertanyaan klasik “warna kesukaan dan makanan favoritmu”. Terdengar seperti ingin menuliskan biodata ketika kita sekolah dasar dulu bukan? Kau tersenyum, kearahku. Kau bilang kau belum memutuskan untuk menyukai warna apa, karna semua warna akan terlihat cantik pada tempatnya. Perihal makanan kesukaan, kau malah bertanya balik ke arahku. Kita akhirnya memutuskan untuk menyebutnya secara bersamaan “martabak keju” lantas ekspresi kita beradu dan tertawa bersama setelahnya.

Flashback ku sudah selesai. Setidaknya aku bersyukur, yang ku ingat bukan kebodohan dan penyesalan. Tapi potongan kenangan dengan mu yang tak mungkin lagi terulang.

Jumat, 26 Juli 2019

Hal Pertama

Senin,  27 Mei 2019

Selalu ada Hal Pertama,  yang akan kamu jalani dalam hidup. Pertama kali berjalan,  pertama kali membaca,  pertama kali berhitung, dll. Sungguh...  Kau bahkan tidak bisa menghitungnya bukan?  Berapa banyak pertama kali yang sudah kau lalui. 

Dulu.... Aku sempat takut sekali. Untuk menjalani sebagian dari Hal Pertama itu. Dan ya... Ada beberapa Hal Pertama yang Gagal,  menguji mentalku. Seberapa kuat kau bertahan? Mungkin itu yang ingin disampaikanNya. 

Hari ini aku kembali menjalani Hal Pertama. Bertemu dengan permata-permata yang lucu. Mencoba masuk ke dunia mereka,  menjadi teman bahkan sahabat yang menyenangkan. 
"Ustazah,  hewan kesukaan nya apa?"
"Hobi,  makanan dan minuman favoritnya apa? "
"Tadi pagi sahur pake apa? "
Sungguh Nak... Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sontak membuatku menggelitik. Aku bahkan mencoba mengingat apa hewan kesukaan ku 😂😂 begitu banyak hewan yang pernah aku dekati. Bahkan ular pun pernah aku dekati untuk dibedah 😂😂

"Ustazah... Aku cape. Pengen batal puasa" 
Siang itu memang terik sekali. Tadi pagi kalian dengan semangatnya berbagi cerita tentang menu sahur. Siangnya kalian sudah mengeluh ingin berbuka. Ah nak...ini sungguh pembelajaran. Aku tak akan kaget jika nanti sudah saatnya aku menjadi... Ehmmm.... 😁

Harapan



Kau. Adalah harapan ayah ibumu.
Ketika kau lahir,  Kau adalah hadiah dari penantian mereka.
Terselip doa mereka di deretan namamu.
Terselip namamu diantara doa-doa panjang mereka.
Senyum mereka selalu menyapa setiap saat, sedih mereka sembunyikan, ditutup rapat-rapat.


Bahagiamu otomatis akan menjadi bahagia mereka ❤


Seperti hari itu... Sabtu,  26 Januari 2019.
Moment wisuda... Ayah sibuk mengambil gambar ketika aku masuk ruangan bahkan ketika namaku disebut,   meneriaku namaku dari atas, melambai-lambai tangan dan tersenyum. Mama pun begitu jadi tim hore ayah,  mengarahkan agar gambar yang diambil pas 😁 hualehhh tak berhenti tawa ini.


Pas keluar ruangan langsung buka-buka ijazah, mencoba mengerti apa artinya 😁

Selasa, 26 Juni 2018

Kenangan yang Terlupakan


Ah susah memang kalau ingatan tak setajam yang kuinginkan. Ketika teman lama menanyakan momen yang harusnya diingat, aku malah dengan muka tak berdosa menjawab "itu yang mana ya? aku lupa" sambil mesem-mesem sendiri. Kalau itu hal itu membuat penasaran aku kadang menggebu-gebu untuk diceritakan detail kejadiannya, setelah sekian lama bercerita aku mungkin bisa mengingatingatnya. Kalau sampai ingat aku langsung berteriah "ah ya... aku ingat" kali ini dengan nada tertawa bahagia karena merasa berhasil, hahaaaha!

Perihal melupakan, aku bersyukur Tuhan menciptakan memori seperti ini. Dia bisa memfiler dengan sendirinya mana memori yang harus diingat dan mana memori yang harus dibuang. Namun kadangkala yang dibuang seharusnya untuk diingat, dan yang diingat kadangkala kenangan menyakitkan yang seharusnya di buang. Ah sudahlah Tuhan pasti punya tujuan yang indah bukan? Tuhan ingin kita menjadikan memori yang menyakitkan sebagai pelajaran.

Kau pernah ingat atau pernah dengar kisah pemuda penghafal Al Quran pada zaman Rasulullah. Namanya ‘Abdah bin ‘Abdurrahiim yang jatuh cinta pada seorang wanita romawi?. Kecantikan wanita itu menyihir dirinya sehingga sampai lupa diri. Sampai-sampai dia mengirimkan sebuah surat cinta untuk wanita itu, begini tulisnya “Adinda, bagaimana caranya agar aku bisa sampai ke pangkuanmu?” Perempuan itu menjawab: “Kakanda, masuklah agama nashrani, maka aku jadi milikmu". Apa yang Abdah lakukan? Ya! dia menyetujui nya. Dia menjadi nasrani, sampai akhirnya Tuhan membuatnya lupa akan semua hafalannya. Hanya tersisa 2 ayat yaitu

رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ.
“Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang Muslim." 

ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ ۖفَسَوْفَ يَعْلَمُونَ.
 “Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (QS. Al Hijr: 2-3)

Seperti itulah, selalu ada campur tangan Allah di dalam setiap ingatan yang kita simpan. Allah bisa saja membuat kita mengingat semuanya, namun dengan mudah juga Allah bisa menghilangkan semuanya.