Minggu, 27 Desember 2020

Apa definisi bahagiamu?

 



“Tidak ada yang terlahir jelek. Kita hanya terlahir dimasyarakat yang suka menghakimi”

Aku sudah lama mendengar kata-kata itu. Kata-kata itu dari Kim Namjoon, seorang leader pada sebuah grub idol kpop. Seakan menjadi penyembuh untuk kita yang suka merasa insecure entah itu karena wajah kita atau karena tampilan kita. Bisa juga karena pola pikir kita yang menurut kita belum bisa sehebat orang lain. Atau karena kesuksesan kita yang menurut kita masih terlampau jauh untuk dibilang sebuah keberhasilan. Kenapa kita selalu membandingkan diri kita dengan orang lain? Dan kenapa orang lain seakan berhak untuk menghakimi kehidupan kita?

Aku yakin, orang hebat sekalipun yang terlihat sempurna di mata dunia pasti pernah merasa tidak percaya diri dengan apa yang dia punya. Sebenarnya solusi dari permasalahan ini adalah sabar dan syukur kan? Tentu kedua kata itu terlihat mudah terucap namun sulit sekali dilaksanakan. Kita diminta sabar ketika ada seseorang yang menghakimi kita. Kita juga diminta bersyukur untuk semua yang Tuhan berikan kepada kita. Tapi aku rasa menangis bukanlah pilihan yang buruk jika kita sudah merasa muak dengan semuanya.

Selain sabar dan syukur, bahagia adalah kunci untuk bertahan hidup di dunia. Definisi bahagia setiap orang pasti berbeda bukan? Anak kecil akan bahagia hanya karena sebuah permen, seorang pedagang akan bahagia jika ada yang tertarik dengan barangnya, seorang penulis akan bahagia jika tulisanya bisa bermanfaat untuk orang lain. Semua punya definisinya. Aku harap, kamu, aku dan kita semua punya alasan bahagia yang begitu banyak. Sehingga tak ada waktu untuk menyalahkan diri sendiri. Menangis dalam sepi memikirkan pendapat orang lain yang menghakimi. Tidak ada yang sempurna karena “Kita hidup untuk menjadi nyata, bukan menjadi sempurna (Suga-BTS)”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar