Tehitung sejak akhir Maret, karantina #dirumahaja memaksa ku
untuk melakukan hal-hal yang tidak biasa aku lakukan. Bukan seperti aktivitasku
biasanya yang selalu berangkat pagi buta dari rumah dan selalu pulang ketika
matahari ingin beranjak tenggelam.
Hari ini aku memutuskan untuk membongkar semua isi lemari. Kau
pasti tau, hal yang pasti terjadi dari aktivitas itu adalah ditemukannya
tumpukan buku berisi kenangan. Aku tertawa untuk beberapa lembar catatan usang
yang ku baca ulang, mengingat kembali momen-momen itu. Seperti jiwaku ingin
berkelana kesana. Menertawakan kebodohan dan menangisi penyesalan.
Dari sekian banyak catatan tanpa jeda setiap lembarnya, ada
satu catatan yang membuatku seperti mengingat kembali apa yang mendasari ku
menulis itu. Keras putih bercoretkan tinta hitam itu tertulis “penyuka semua
warna, langit sore, martabak keju dan kamu” hanya satu kalimat. Tanpa penjelasan
yang panjang. Ah dasar, memang aku si pelupa dalam segala hal, sampai-sampai
kalimat itu membuat konsentrasiku terganggu di setiap detiknya. Mengingat-ingat
apa yang membuat aku menuliskan kalimat itu.
Kamu...iya kamu yang dimaksud dalam tulisan itu pastilah kamu.
Manusia keras kepala tapi selalu sabar akan sikap masa bodo ku. Kata orang
perpaduanmu komplit, menguasai semua lini. Tapi menurutku, keputusanmu untuk
melihat kearahku adalah keputusan yang salah. Aku adalah manusia dengan sejuta
alasan tak lazim dikepala. Yang selalu memikirkan mengapa ada orang lain yang
bukan dari keluargaku atau teman baikku mendeklarasikan kalau aku milik mu. Bagi
remaja seperti ku itu adalah hal yang tak masuk akal. Bukankah butuh waktu lama
untuk saling mengenal lantas akhirnya baru ada pendeklarasian?
Sedangkan penyuka semua warna, langit sore dan martabak keju
setelah diingat-ingat memang itu adalah perpaduan yang terjadi di satu waktu. Kau
masih ingat? Iya latar waktu dalam kejadian ini adalah sore hari, katanya kau
selalu melihat langit sore tapi langit sore hari ini berbeda karena ada aku
disampingmu, aih... manis sekali perkataan itu. Kita tampak tak serasi dengan
pakaian yang tak senada, sehingga terlihat sekali rupanya diantara sore
menjelang gelap. Saat itu obrolan kita adalah tentang hobi dan semacamnya. Sampai
aku menanyakan pertanyaan klasik “warna kesukaan dan makanan favoritmu”. Terdengar
seperti ingin menuliskan biodata ketika kita sekolah dasar dulu bukan? Kau tersenyum,
kearahku. Kau bilang kau belum memutuskan untuk menyukai warna apa, karna semua
warna akan terlihat cantik pada tempatnya. Perihal makanan kesukaan, kau malah
bertanya balik ke arahku. Kita akhirnya memutuskan untuk menyebutnya secara
bersamaan “martabak keju” lantas ekspresi kita beradu dan tertawa bersama setelahnya.
Flashback ku sudah
selesai. Setidaknya aku bersyukur, yang ku ingat bukan kebodohan dan
penyesalan. Tapi potongan kenangan dengan mu yang tak mungkin lagi terulang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar