Kamis, 16 April 2020

Penyuka Semua Warna, Langit Sore, Martabak Keju dan Kamu



Tehitung sejak akhir Maret, karantina #dirumahaja memaksa ku untuk melakukan hal-hal yang tidak biasa aku lakukan. Bukan seperti aktivitasku biasanya yang selalu berangkat pagi buta dari rumah dan selalu pulang ketika matahari ingin beranjak tenggelam.

Hari ini aku memutuskan untuk membongkar semua isi lemari. Kau pasti tau, hal yang pasti terjadi dari aktivitas itu adalah ditemukannya tumpukan buku berisi kenangan. Aku tertawa untuk beberapa lembar catatan usang yang ku baca ulang, mengingat kembali momen-momen itu. Seperti jiwaku ingin berkelana kesana. Menertawakan kebodohan dan menangisi penyesalan.

Dari sekian banyak catatan tanpa jeda setiap lembarnya, ada satu catatan yang membuatku seperti mengingat kembali apa yang mendasari ku menulis itu. Keras putih bercoretkan tinta hitam itu tertulis “penyuka semua warna, langit sore, martabak keju dan kamu” hanya satu kalimat. Tanpa penjelasan yang panjang. Ah dasar, memang aku si pelupa dalam segala hal, sampai-sampai kalimat itu membuat konsentrasiku terganggu di setiap detiknya. Mengingat-ingat apa yang membuat aku menuliskan kalimat itu.

Kamu...iya kamu yang dimaksud dalam tulisan itu pastilah kamu. Manusia keras kepala tapi selalu sabar akan sikap masa bodo ku. Kata orang perpaduanmu komplit, menguasai semua lini. Tapi menurutku, keputusanmu untuk melihat kearahku adalah keputusan yang salah. Aku adalah manusia dengan sejuta alasan tak lazim dikepala. Yang selalu memikirkan mengapa ada orang lain yang bukan dari keluargaku atau teman baikku mendeklarasikan kalau aku milik mu. Bagi remaja seperti ku itu adalah hal yang tak masuk akal. Bukankah butuh waktu lama untuk saling mengenal lantas akhirnya baru ada pendeklarasian?

Sedangkan penyuka semua warna, langit sore dan martabak keju setelah diingat-ingat memang itu adalah perpaduan yang terjadi di satu waktu. Kau masih ingat? Iya latar waktu dalam kejadian ini adalah sore hari, katanya kau selalu melihat langit sore tapi langit sore hari ini berbeda karena ada aku disampingmu, aih... manis sekali perkataan itu. Kita tampak tak serasi dengan pakaian yang tak senada, sehingga terlihat sekali rupanya diantara sore menjelang gelap. Saat itu obrolan kita adalah tentang hobi dan semacamnya. Sampai aku menanyakan pertanyaan klasik “warna kesukaan dan makanan favoritmu”. Terdengar seperti ingin menuliskan biodata ketika kita sekolah dasar dulu bukan? Kau tersenyum, kearahku. Kau bilang kau belum memutuskan untuk menyukai warna apa, karna semua warna akan terlihat cantik pada tempatnya. Perihal makanan kesukaan, kau malah bertanya balik ke arahku. Kita akhirnya memutuskan untuk menyebutnya secara bersamaan “martabak keju” lantas ekspresi kita beradu dan tertawa bersama setelahnya.

Flashback ku sudah selesai. Setidaknya aku bersyukur, yang ku ingat bukan kebodohan dan penyesalan. Tapi potongan kenangan dengan mu yang tak mungkin lagi terulang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar