Jumat, 26 Juli 2019

Hal Pertama

Senin,  27 Mei 2019

Selalu ada Hal Pertama,  yang akan kamu jalani dalam hidup. Pertama kali berjalan,  pertama kali membaca,  pertama kali berhitung, dll. Sungguh...  Kau bahkan tidak bisa menghitungnya bukan?  Berapa banyak pertama kali yang sudah kau lalui. 

Dulu.... Aku sempat takut sekali. Untuk menjalani sebagian dari Hal Pertama itu. Dan ya... Ada beberapa Hal Pertama yang Gagal,  menguji mentalku. Seberapa kuat kau bertahan? Mungkin itu yang ingin disampaikanNya. 

Hari ini aku kembali menjalani Hal Pertama. Bertemu dengan permata-permata yang lucu. Mencoba masuk ke dunia mereka,  menjadi teman bahkan sahabat yang menyenangkan. 
"Ustazah,  hewan kesukaan nya apa?"
"Hobi,  makanan dan minuman favoritnya apa? "
"Tadi pagi sahur pake apa? "
Sungguh Nak... Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sontak membuatku menggelitik. Aku bahkan mencoba mengingat apa hewan kesukaan ku 😂😂 begitu banyak hewan yang pernah aku dekati. Bahkan ular pun pernah aku dekati untuk dibedah 😂😂

"Ustazah... Aku cape. Pengen batal puasa" 
Siang itu memang terik sekali. Tadi pagi kalian dengan semangatnya berbagi cerita tentang menu sahur. Siangnya kalian sudah mengeluh ingin berbuka. Ah nak...ini sungguh pembelajaran. Aku tak akan kaget jika nanti sudah saatnya aku menjadi... Ehmmm.... 😁

Harapan



Kau. Adalah harapan ayah ibumu.
Ketika kau lahir,  Kau adalah hadiah dari penantian mereka.
Terselip doa mereka di deretan namamu.
Terselip namamu diantara doa-doa panjang mereka.
Senyum mereka selalu menyapa setiap saat, sedih mereka sembunyikan, ditutup rapat-rapat.


Bahagiamu otomatis akan menjadi bahagia mereka ❤


Seperti hari itu... Sabtu,  26 Januari 2019.
Moment wisuda... Ayah sibuk mengambil gambar ketika aku masuk ruangan bahkan ketika namaku disebut,   meneriaku namaku dari atas, melambai-lambai tangan dan tersenyum. Mama pun begitu jadi tim hore ayah,  mengarahkan agar gambar yang diambil pas 😁 hualehhh tak berhenti tawa ini.


Pas keluar ruangan langsung buka-buka ijazah, mencoba mengerti apa artinya 😁

Selasa, 26 Juni 2018

Kenangan yang Terlupakan


Ah susah memang kalau ingatan tak setajam yang kuinginkan. Ketika teman lama menanyakan momen yang harusnya diingat, aku malah dengan muka tak berdosa menjawab "itu yang mana ya? aku lupa" sambil mesem-mesem sendiri. Kalau itu hal itu membuat penasaran aku kadang menggebu-gebu untuk diceritakan detail kejadiannya, setelah sekian lama bercerita aku mungkin bisa mengingatingatnya. Kalau sampai ingat aku langsung berteriah "ah ya... aku ingat" kali ini dengan nada tertawa bahagia karena merasa berhasil, hahaaaha!

Perihal melupakan, aku bersyukur Tuhan menciptakan memori seperti ini. Dia bisa memfiler dengan sendirinya mana memori yang harus diingat dan mana memori yang harus dibuang. Namun kadangkala yang dibuang seharusnya untuk diingat, dan yang diingat kadangkala kenangan menyakitkan yang seharusnya di buang. Ah sudahlah Tuhan pasti punya tujuan yang indah bukan? Tuhan ingin kita menjadikan memori yang menyakitkan sebagai pelajaran.

Kau pernah ingat atau pernah dengar kisah pemuda penghafal Al Quran pada zaman Rasulullah. Namanya ‘Abdah bin ‘Abdurrahiim yang jatuh cinta pada seorang wanita romawi?. Kecantikan wanita itu menyihir dirinya sehingga sampai lupa diri. Sampai-sampai dia mengirimkan sebuah surat cinta untuk wanita itu, begini tulisnya “Adinda, bagaimana caranya agar aku bisa sampai ke pangkuanmu?” Perempuan itu menjawab: “Kakanda, masuklah agama nashrani, maka aku jadi milikmu". Apa yang Abdah lakukan? Ya! dia menyetujui nya. Dia menjadi nasrani, sampai akhirnya Tuhan membuatnya lupa akan semua hafalannya. Hanya tersisa 2 ayat yaitu

رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ.
“Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang Muslim." 

ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ ۖفَسَوْفَ يَعْلَمُونَ.
 “Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (QS. Al Hijr: 2-3)

Seperti itulah, selalu ada campur tangan Allah di dalam setiap ingatan yang kita simpan. Allah bisa saja membuat kita mengingat semuanya, namun dengan mudah juga Allah bisa menghilangkan semuanya.

Selasa, 19 Juni 2018

Dear Diary....


Dear... Diary....
Hari ini aku pulang dengannya. Di bawah rintik hujan. Kami diam, tak ada satu patah katapun terucap. Dinginnya hujan membuat kami semakin beku. Sampai akhirnya tiba di ujung persimpangan gang rumahku. Dia pamit pulang, aku mengangguk pelan sambil berucap "terimakasih". Kami bepisah.
Sesampaiya dirumah, sebuah pesan masuk, "Jangan lupa basahi kepalamu dengan air hangat, air hujan bisa membuat kamu sakit" begitu bunyi pesannya. Aku hanya tersenyum, menutup pesan tanpa membalasnya.

Dear....Diary....
Hari ini aku sedang marahan dengannya. Ternyata ada yang disembunyikan olehnya selama ini dariku. Menghianatiku? Apa maksudnya?. Handpone ku sedari tadi berdering, puluhan pesan masuk dan puluhan panggilan tak terjawab sengaja aku biarkan. Sedang aku memasang wajah kesal sambil mengutuk dirinya dalam hatinya, apa? menangis? aku tak akan menangis karenanya! Isi pesan hanya permintaan maaf, yang dia kirim sampai menjelang pagi. Untuk apa pikirku? untuk menandakan bahwa ia tak tidur nyenyak semalaman? ah itu hanya akal-akalannya saja. Kita renggang. Tak ada sepasang diam yang pulang bersama lagi sepulang sekolah.

Dear...Diary....
Aku Lulus! Kami hilang kontak. Aku tak tau dia dimana sekarang. Anehnya aku semakin lama malah semakin melupakannya. Tak ada nama dia yang berbekas lagi di deretan memori pikiranku. Bagus! Aku bisa hidup tenang.

Yeahhhhhhh...
Itu adalah sebagian catatan yang dikutip dari diary jadul yang ditemukan di tumpukan buku-buku usang.

Sepasang diam.
Anehnya aku tak pernah rindu dengan suasana itu.
Anehnya memoriku memang benar-benar menghapus semua kejadian yang nyatanya memang harus tersimpan.
Aku biasa saja melihat barang-barang kenanganmu.
Aku biasa saja bahkan saat melihat profile mu sekarang bersama dengan yang lain.
Entahlah, aku yang bebal, atau mungkin memang kenangan itu sederhana untuk dilupakan.
Selamat malam, Semoga kau tenang!


-Maury-

Rabu, 14 Maret 2018

Rindu yang Tertunda






Jangan bicara Rindu untuk saat ini
Karena sakit akibat rindu belum waktunya kita rasakan
Memanfaatkan waktu untuk bertemu
Duduk bersama untuk mengulang cerita lama
Atau sekedar bercengkrama menikmati senja

Aku memang tak menyangkal
Jika setiap pertemuan akan berujung perpisahan
Namun waktu yang diberikan terasa sedikit sekali bukan?
Rasanya baru kemarin aku senang karena adanya keluarga baru
Rasanya perkenalan kita baru pagi tadi terlaksana
Dan senja penuh cerita itu juga kurasa terlalu singkat
Jika aku diberi satu permintaan
Pasti aku akan meminta untuk mengulang waktu
Mengukir cerita yang lebih indah bersama kalian
Karena buku ku belum sepenuhnya penuh dengan nama kalian

Matahari pagi menyambut dengan gembira
Ya, baru saja kita bertemu untuk jarak waktu yang cukup lama
Rindu itu sudah datang walau belum tepat pada waktunya
Satu hari, kita rasa cukup untuk menebus semuanya
Melupakan ego dan tenggelam bersama kebersamaan
Hei, hujan juga menemani perjalanan kita kali ini
Seakan hujan tak mau tertinggal namanya dalam cerita ini

Ketika makanan siap terhidang, uapnya bahkan mengundang
Aku merasakan obrolan santai itu kembali terdengar
Aku melihat tawa yang belakangan ini sudah jarang terlihat
Aku mendengar nyanyiian-nyanyian indah yang selama ini ku dengar
Namun lagi-lagi nyanyian itu sudah tak lama singgah di telinga
Aku merasakan kembali semangat itu
Semangat untuk tetap ada pada barisan
Semangat untuk tetap menebar kebaikan

Namun, kini kita sudah waktunya membuka lembaran baru
Mempersiapkan kertas dan alat tulis baru
Untuk kemudian menulis cerita perjalanan selanjutnya
Aku bahagia
Sehari ini setidaknya rindu itu tertunda datang
Untuk waktu yang cukup lama
Senja bahkan melengkapi cerita kita
Semburat cahaya merah jingga itu menemani perjalanan pulang
Kita diam, untuk menikmatinya sebentar
Tatapan mata kita bertemu disana
Untuk selanjutnya waktu kembali memisahkan kita
Selamat menikmati hari-hari penuh rindu
Kuharap tak ada kata sungkan untuk bertemu

 

-Maury-

Jangan Pergi Menjauh





Menjauh, bukanlah pilihan
Pilihan yang tersedia adalah mendekat atau semakin dekat
Bukankah kau pernah mendengar janjiNya?
Jika kau mendekatiNya dengan berjalan maka Dia akan mendekatimu dengan berlari
Romantis bukan?

Lalu, apa yang membuatmu enggan mendekat?
Kau pangkas rasa syukurmu denganNya
Pekerjaanmu kau jadikan alasan untuk lalai dalam sujud untukNya
Kitab sucimu kau biarkan berdebu
Nafsumu tak terkendali
Apa kabar ibadahmu yang lain?

Kau sebut apa ini?
MelupakanNya? MeninggalkanNya?
Ah sudahlah!
Pasti kau akan mengelak dengan sejuta alasan
Yang ku tau semua alasan itu pasti tentang dunia

Jika kau mengambil keputusan untuk menjauh
Ku peringatkan dari sekarang
Itu bukalah pilihan!
Kau akan bingung mencari arah hidupmu selajutnya
Tidak kah kau merasakannya sekarang?

Ku ingin genggam tangan mu kembali
Kita coba untuk saling menyeimbangkan
Bersama saling mengingatkan
Menasehati dalam kebaikan
Karena aku tak ingin bersamamu di dunia saja
Aku ingin mengajakmu menikmati indahnya Syurga yang telah dijanjikan

Jangan biarkan aku sendiri, karena berjuang sendiri itu akan berat
Aku ingin kau ada dan menemani
Hei! Jangan sesekali lepaskan genggaman tangan itu
Aku pun mungkin akan jatuh jika kau menjauh

#SelfReminder 
-Maury-

Senin, 12 Maret 2018

Ternyata, Kau Alasannya




Ingatkah kau?
Aku pernah bercerita tentang impianku.
Aku juga pernah mengakui kau menjadi salah satu inspirasinya.
Kala itu kau tersenyum, kuakui manis sekali.
Lantas kau menyemangatiku!

Hei, biarkan ku beritahu.
Walau mungkin kau tak ingin tahu.
Sejak kepergianmu itu, tunggu! aku lebih suka menyebutnya menghilang.
Karena jika menghilang kau pasti punya kekuatan untuk kembali lagi bukan?
Kau hanya perlu menyebut mantranya.
Ya, sejak saat itu kebiaasaanku juga menghilang, seakan ingin ikut bersamamu.

Entahlah!
Aku memutuskan untuk memilih kebiasaan baru.
Yang dengan kbeiasaan itu kuharap ku bisa menghapus memori tentangmu.
Bersusah payah untuk menyangkal hadirnya rindu.
Menghapus bayangmu yang seringkali mengganggu.

Jika begitu, Apakah benar hanya kau alasan atas kebiasaanku?
Kebiasaan yang bisa menghantarkanku kepada mimpiku.
Kau tau rasanya jika seorang traveler kehilangan peta? Tanpa arah bukan?
Mungkin itu yang aku rasa sejak kepergianmu.
Itu artinya aku pernah berbohong.
Karena mengatakan "Kau hanya salah satunya"
Tapi nyatanya?
Kau memang hanya satu-satunya alasan.

Sesuai harapanku.
Dengan jurusmu itu, kini kau kembali.
Melihat tatapan matamu seakan mengajakku untuk kembali melakukan kebiasaan itu.
Dan bodohnya, aku diam-diam menyetujuinya.
Tentu saja di depanmu aku pura-pura menolak.
Mengatakan kita sudah selelsai, jarak itu terlalu renggang untuk disatukan.
Tapi, dengan kehadiranmu kali ini, ku akui aku mendapat inspirasi ku kembali.
Aku tidak mengatakan itu didepanmu!

Biarkan aku berusaha melepaskan, lantas mengikhlaskan.
Dengan mengulang kebiasaanku, namun tanpa adanya kamu disampingku.
Bukankan Ahimsa pernah bilang "Jika cinta yang tidak menyatu, barangkali itu bukan cinta".

-Maury-

Sebuah Keputusan





Kau kembali?
Atas dasar apa?
Apakah ada kata yang belum tersampaikan?
Atau hadirnya penyesalan?
Bodoh memang,
Jika aku menyimpulkan kau kembali karena ada jejak hati yang tertinggal.

Melihatmu berarti membuka memori.
Melonggarkan jahitan-jahitan hati yang sudah lama ku rajut.
Asal kau tahu luka itu hampir mengering.
Itu artinya, Aku harus mengingat cerita lama yang sempat membuatku tertawa.

Tuan bisakah kau tak usah kembali jika hanya diam?
Aku butuh penjelasan dan alasan.
Jika kau berkata itu bukan urusanku, lalu mengapa kau melibatkanku?
Kau memaksaku untuk kembali memikirkanmu.
Semua kenangan itu, Indah memang. Tapi akhirnya tak bisa ku definisikan.
Ambilah keputusan. Kau lelaki bukan?
Pergi atau menetap disini bersamaku.

Terimakasih sudah kembali.
Untuk nama yang pernah melagit bersama doa-doa.
Dalam diam, rindu itu kembali hadir.

-Maury-