Jumat, 17 April 2020

Ingat ini di Masa Depan



Tulisan ini dibuat sebagai pengingat, bahwa di bulan kedua tahun 2020 dunia dihebohkan dengan adanya virus baru yang mematikan dan penyebaran sangat cepat. Dunia medis menyebutnya COVID-19, sedangkan masyarakat sekitar kebanyakan menyebutnya Virus Corona. Virus ini awal mula muncul di negara tirai bambu, tepatnya di kota Wuhan. Penularan dangat cepat melalui droplet si penderita. Oleh sebabnya menjaga kebersihan adalah salah satu kunci terhindar dari virus corona.

Rumah sakit tiba-tiba menjadi penuh dengan pasien Covid, dokter dan perawat menjadi garda terdepan penanganan virus ini. Sampai akhirnya virus menyebar ke berbagai negara di dunia, tak terkecuali negaraku, Indonesia.

Indonesia pertama kali terpapar virus corona terhitung awal bulan Maret, diawali dengan seorang pegiat seni dibidang tari berasal dari kota Depok. Masyarakat menjadi sangat panik, semua orang berbondong-bondong membeli kebutuhan sehari-hari untuk akhirnya mengurung diri di rumah, meminimalisir penularan. Korban dari hari ke hari semakin bertambah banyak. Sampai saat ini, Jumat 17 April 2020 tercatat sudah 5.923 kasus positif, dengan 520 orang meninggal dan 607 orang sembuh yang terbesar di 34 provinsi di Indonesia.

Sebagian masyarakat mengikuti dengan tertib anjuran #dirumahaja. Namun sebagian yang lain masih saja berjibaku di luar rumah, entah karena alesan pekerjaan, sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan, atau mungkin memang ada segelintir orang yang merasa tidak peduli dengan wabah ini. Tipe orang terakhir memang sangat menyebalkan, tak pernah memikirkan dampak dari segala perilakunya.

Setiap harinya berita di televisi, surat kabar maupun media sosial tak pernah absen berbicara tentang Covid-19. Seakan kami semua setiap hari sudah terbiasa dengan berita buruk. Ikut sedih dan menangis ketika melihat dokter dan perawat sebagai garda terdepan harus menjadi korban juga. Tak hanya mereka, profesi polisi, tentara, bahkan supir ambulans pun harus tetap bekerja untuk membantu memakamkan jenazah korban corona.

Katanya, bumi sedang ingin istirahat dari hiruk pikuk kehidupan manusia. Planet yang sudah dengan sukarela ditinggali manusia ini butuh ruang bebas unuk bernapas lega. Tak ingin ada polusi yang pekat seperti biasa. Tak ingin ada ulah manusia yang ada-ada saja tingkahnya untuk merusak alam semesta.

Kalau sudah begini keadaannya, tak ada cara lain selain berdoa kepada Maha Kuasa. Menundukkan kepala, bersuara dengan lirih dan memejamkan mata, berucap pinta dengan merendahkan diri dengan kesungguhan kita. Tuhan mungkin rindu dengan suara pinta hambaNya. Karena selama ini kita hanya sibuk dengan kehidupan dunia yang nyatanya hanya sementara saja.

Bulan Ramadhan satu pekan lagi. Aku dan semua muslim di dunia tentu mengharapkan keajaiban di bulan yang suci ini. Ingin sekali merasakan suasana seperti biasa. Berjamaah dan berlomba dalam mencari pahala. Semoga Allah mengabulkan doa-doa kita, Aamiin.

Kamis, 16 April 2020

Penyuka Semua Warna, Langit Sore, Martabak Keju dan Kamu



Tehitung sejak akhir Maret, karantina #dirumahaja memaksa ku untuk melakukan hal-hal yang tidak biasa aku lakukan. Bukan seperti aktivitasku biasanya yang selalu berangkat pagi buta dari rumah dan selalu pulang ketika matahari ingin beranjak tenggelam.

Hari ini aku memutuskan untuk membongkar semua isi lemari. Kau pasti tau, hal yang pasti terjadi dari aktivitas itu adalah ditemukannya tumpukan buku berisi kenangan. Aku tertawa untuk beberapa lembar catatan usang yang ku baca ulang, mengingat kembali momen-momen itu. Seperti jiwaku ingin berkelana kesana. Menertawakan kebodohan dan menangisi penyesalan.

Dari sekian banyak catatan tanpa jeda setiap lembarnya, ada satu catatan yang membuatku seperti mengingat kembali apa yang mendasari ku menulis itu. Keras putih bercoretkan tinta hitam itu tertulis “penyuka semua warna, langit sore, martabak keju dan kamu” hanya satu kalimat. Tanpa penjelasan yang panjang. Ah dasar, memang aku si pelupa dalam segala hal, sampai-sampai kalimat itu membuat konsentrasiku terganggu di setiap detiknya. Mengingat-ingat apa yang membuat aku menuliskan kalimat itu.

Kamu...iya kamu yang dimaksud dalam tulisan itu pastilah kamu. Manusia keras kepala tapi selalu sabar akan sikap masa bodo ku. Kata orang perpaduanmu komplit, menguasai semua lini. Tapi menurutku, keputusanmu untuk melihat kearahku adalah keputusan yang salah. Aku adalah manusia dengan sejuta alasan tak lazim dikepala. Yang selalu memikirkan mengapa ada orang lain yang bukan dari keluargaku atau teman baikku mendeklarasikan kalau aku milik mu. Bagi remaja seperti ku itu adalah hal yang tak masuk akal. Bukankah butuh waktu lama untuk saling mengenal lantas akhirnya baru ada pendeklarasian?

Sedangkan penyuka semua warna, langit sore dan martabak keju setelah diingat-ingat memang itu adalah perpaduan yang terjadi di satu waktu. Kau masih ingat? Iya latar waktu dalam kejadian ini adalah sore hari, katanya kau selalu melihat langit sore tapi langit sore hari ini berbeda karena ada aku disampingmu, aih... manis sekali perkataan itu. Kita tampak tak serasi dengan pakaian yang tak senada, sehingga terlihat sekali rupanya diantara sore menjelang gelap. Saat itu obrolan kita adalah tentang hobi dan semacamnya. Sampai aku menanyakan pertanyaan klasik “warna kesukaan dan makanan favoritmu”. Terdengar seperti ingin menuliskan biodata ketika kita sekolah dasar dulu bukan? Kau tersenyum, kearahku. Kau bilang kau belum memutuskan untuk menyukai warna apa, karna semua warna akan terlihat cantik pada tempatnya. Perihal makanan kesukaan, kau malah bertanya balik ke arahku. Kita akhirnya memutuskan untuk menyebutnya secara bersamaan “martabak keju” lantas ekspresi kita beradu dan tertawa bersama setelahnya.

Flashback ku sudah selesai. Setidaknya aku bersyukur, yang ku ingat bukan kebodohan dan penyesalan. Tapi potongan kenangan dengan mu yang tak mungkin lagi terulang.